👁️ Dilihat: 51 kali

Oleh: Ahmad Ilham Asmaryadi, MA
Dosen Pendidikan Dasar, Peneliti PCK di PGSD FKIP Undhari

Di tengah masifnya pelatihan guru dan workshop pendidikan yang diselenggarakan pemerintah dari tingkat kementerian hingga dinas saya menyimpan satu kegelisahan mendasar: ke mana sebenarnya arah pelatihan guru kita? Apakah ia benar-benar menyentuh inti profesionalisme guru, atau sekadar sibuk mengganti bungkus tanpa memperbaiki isi?

Hari-hari ini kita melihat gencarnya promosi Workshop Deep Learning, Workshop Kurikulum Merdeka, Workshop Digitalisasi, dan sebagainya. Namun, sayangnya, sebagian besar kegiatan tersebut terasa seperti kosmetik intelektual bertabur istilah canggih, tetapi jauh dari realitas kebutuhan guru di ruang kelas dasar.

Sebagai dosen dan pembina mahasiswa calon guru, saya menyaksikan sendiri betapa guru-guru kita bahkan yang sudah lama mengabdi masih kesulitan memahami karakteristik siswa, merancang pembelajaran berbasis konteks lokal, dan mengintegrasikan literasi serta numerasi dalam RPP. Maka, pertanyaannya sederhana: kenapa pelatihan justru tidak fokus pada hal paling mendasar ini, yaitu kemampuan pedagogik dan konten guru, atau yang disebut Pedagogical Content Knowledge (PCK)?

Negara Kalah dengan Swasta?
Hal yang lebih ironis adalah kenyataan bahwa lembaga swasta seperti Ruangguru, Zenius, Hafecs, dan lainnya justru tampil jauh lebih progresif dalam menawarkan pelatihan berbasis PCK secara sistematis dan terstruktur. Mereka hadir dengan platform, sistem mentoring, hingga asesmen kompetensi. Sementara lembaga milik negara yang sejatinya adalah “konsultan utama pendidikan” sering terjebak pada agenda musiman dan proyek-proyek pelatihan populis.

PPG: Harapan yang Tergelincir
Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) semula digagas sebagai jalan ideal untuk mencetak guru profesional. Namun pelaksanaannya, terutama dalam bentuk PPG Dalam Jabatan, justru banyak memunculkan praktik tidak sehat: dari sekadar mengejar sertifikat, hingga penggunaan joki dalam pengerjaan tugas. Saya bahkan menyaksikan sendiri alumni PPG Prajabatan yang kini ‘banting setir’ menjadi joki tugas guru-guru PPG dalam jabatan.

Ini bukan lagi persoalan teknis, tapi persoalan mendasar soal integritas sistem. Kita sedang menghadapi sebuah paradoks: guru disuruh menjadi profesional melalui program yang tidak profesional.

Harus Dimulai dari Hulu
Solusinya bukan dengan menambal lubang lewat pelatihan instan. Solusinya adalah membangun fondasi PCK sejak dari pendidikan tinggi keguruan. Kampus-kampus LPTK harus kembali pada fitrahnya: bukan sekadar mencetak sarjana pendidikan, tapi mencetak guru berpendidikan, guru yang menguasai isi, memahami cara mengajar, dan tahu untuk siapa ia mengajar.

Kalau tidak, kita akan terus berada dalam siklus pelatihan-pelatihan simbolik, guru-guru yang sibuk “bermain jargon”, dan anak-anak Indonesia yang menjadi korban pembelajaran yang kosong makna.

Penulis adalah Dosen Prodi PGSD FKIP Universitas Dharmas Indonesia dan kandidat doktor di Universitas Jambi.