👁️ Dilihat: 168 kali

Oleh Junarlis Amir Syam,S.Sos M.Si.

SUNGAIPENUH, SuaraSindent.com – Setahun waktu memang terasa singkat. Namun dalam rentang 360 hari itu, pasangan Alfin dan Azhar Hamzah berupaya memaksimalkan amanah masyarakat sejak terpilih pada Pilkada 2024 untuk memimpin Sungai Penuh.

Terpilihnya Alfin dan Azhar menjadi catatan sejarah baru di Provinsi Jambi. Untuk pertama kalinya, Wali Kota Sungai Penuh berasal dari kalangan profesional swasta, memecah tradisi sebelumnya yang didominasi latar belakang birokrasi pemerintahan. Kehadiran pemimpin berlatar swasta membawa pendekatan manajerial yang lebih progresif, berorientasi hasil, serta menekankan efisiensi birokrasi.
Kepemimpinan Transformasional dan Kepercayaan Publik
Mengusung semangat “perilaku kerja ekstra”,

Alfin–Azhar menampilkan gaya kepemimpinan transformasional. Sejumlah survei kepuasan publik pada tahun pertama menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap arah perubahan yang dijalankan. Visi “Sungai Penuh Juara” terus digaungkan melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan pelayanan publik.

Penguatan Budaya dan Bahasa Ibu
Di bawah kepemimpinan keduanya, Sungai Penuh juga meraih penghargaan terkait pelestarian bahasa ibu. Capaian ini menjadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan identitas budaya dan nilai-nilai lokal sebagai fondasi karakter daerah.

Dorongan UMKM dan Ekonomi Rakyat
Sektor UMKM menjadi salah satu prioritas utama. Pemerintah kota konsisten mendorong pelaku usaha kecil agar naik kelas melalui pembinaan, akses permodalan, serta promosi produk lokal. Kolaborasi dengan berbagai pihak diharapkan mampu memperkuat daya saing ekonomi masyarakat.

Normalisasi Sungai: Solusi Banjir Kronis

Memasuki awal 2026, salah satu program prioritas yang gencar dilaksanakan adalah normalisasi sungai guna mengatasi banjir kronis di Sungai Penuh dan wilayah sekitar Kabupaten Kerinci.
Bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi, pemerintah kota telah menuntaskan normalisasi sepanjang 19,4 km aliran sungai melalui pengerukan sedimen dan pembersihan sampah.

Program ini akan dilanjutkan pada 2026 dengan tambahan normalisasi sepanjang 11 km di bantaran Sungai Batang Merao, termasuk pembangunan tanggul darurat di titik rawan banjir. Koordinasi juga dilakukan bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk memperkuat proyek strategis tersebut.

Hasilnya mulai dirasakan masyarakat: daerah yang sebelumnya menjadi langganan banjir kini relatif lebih aman, dan genangan air surut lebih cepat saat musim hujan.

Penanganan Sampah dan Target Adipura
Komitmen terhadap lingkungan diwujudkan melalui peresmian TPST di Desa Renah Kayu Embun (RKE) pada Oktober 2025. TPST ini mengusung konsep 3R (reduce, reuse, recycle) dengan dukungan teknologi pengelolaan modern.

Selain itu, pemerintah juga memantau TPS3R yang tersebar di 16 desa dan 5 kawasan, serta mengembangkan program bank sampah guna meningkatkan partisipasi masyarakat. Target besar yang dicanangkan adalah bebas polusi sampah plastik serta meraih penghargaan Adipura pada 2028–2029, melalui kolaborasi berkelanjutan dengan Kementerian PUPR.

Penguatan Agama dan Kerukunan
Pembangunan bidang agama dan budaya turut menjadi perhatian. Bersama Kementerian Agama, pemerintah kota mendorong pelatihan SDM untuk memperkuat kerukunan umat beragama sertamencegah radikalisme dan intoleransi. Agama ditempatkan sebagai pilar harmoni sosial dan penguat jati diri masyarakat.
Satu tahun kepemimpinan Alfin–Azhar menjadi fondasi awal perubahan di Kota Sungai Penuh.

Berbagai capaian tersebut diharapkan terus berlanjut, membawa daerah ini menjadi kota yang lebih maju, berdaya saing, berbudaya, dan harmonis di masa mendatang.