KERINCI – Di balik riak jernih Sungai Batang Merangin yang membelah Desa Pengasi Lama, Kecamatan Bukit Kerman, tersimpan sebuah tradisi turun-temurun yang menantang adrenalin. Bukan sekadar aktivitas mencari lauk pauk, tradisi Menyelam Ikan di desa ini telah menjadi identitas budaya yang menunjukkan kedekatan batin masyarakat Kerinci dengan alam .
Berbeda dengan teknik memancing atau menjala pada umumnya, warga Desa Pengasi Lama memiliki keahlian khusus menyelam ke dasar sungai yang dalam dan berbatu untuk menangkap ikan dengan tangan kosong atau bantuan alat tradisional serampang.
Bertaruh Napas di Kedalaman Sungai
Tradisi menyelam ini biasanya dilakukan oleh kaum pria yang memiliki ketahanan fisik tinggi. Mereka harus mampu menahan napas selama beberapa menit di bawah permukaan air, melawan arus sungai yang terkadang deras, sambil mengintai ikan-ikan endemik seperti Ikan Semah atau Ikan Keperas yang bersembunyi di celah bebatuan.
“Menyelam di sini bukan sekadar cari makan, tapi juga menguji keberanian. Kami belajar dari orang tua kami bagaimana membaca arus dan mengetahui di mana ikan ‘tidur’. Ini adalah warisan yang harus dijaga,” ujar salah satu penyelam senior di Desa Pengasi Lama.
Kearifan Lokal: Mengambil Secukupnya
Salah satu hal yang membuat tradisi di Desa Pengasi Lama ini istimewa adalah prinsip keberlanjutannya. Para penyelam sangat menghargai ekosistem sungai. Mereka dilarang keras menggunakan alat tangkap yang merusak seperti racun potas atau setrum listrik.
Masyarakat meyakini bahwa dengan cara menyelam manual, keseimbangan populasi ikan akan tetap terjaga. Ikan yang ditangkap hanyalah ikan yang sudah layak konsumsi, sementara bibit ikan tetap dibiarkan tumbuh besar di habitatnya. Hal ini sejalan dengan konsep “Lubuk Larangan” yang juga kerap diterapkan di beberapa wilayah Kabupaten Kerinci.
Potensi Wisata Budaya 2026
Memasuki tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Kerinci melalui Dinas Pariwisata mulai melirik potensi tradisi menyelam ikan di Pengasi Lama sebagai atraksi wisata minat khusus. Wisatawan kini tidak hanya diajak melihat keindahan alam, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana warga lokal berinteraksi dengan sungai melalui tradisi unik ini.
“Tradisi di Pengasi Lama adalah potret nyata bagaimana manusia dan alam bisa hidup berdampingan. Kami berupaya agar tradisi ini masuk dalam agenda tahunan sebagai bagian dari wisata budaya di Kerinci,” ungkap perwakilan pemerintah setempat.
Melalui tradisi menyelam ini, Desa Pengasi Lama mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa kekayaan alam yang melimpah hanya akan tetap ada selama manusia mau memperlakukannya dengan cara-cara yang terhormat dan penuh etika.
Edi.T





Tinggalkan Balasan