👁️ Dilihat: 151 kali

KERINCI JAMBI MEDIA SINDENT  Danau Kerinci tidak hanya berdiri sebagai kepingan “Sekepal Tanah dari Surga,” tetapi juga sebagai warisan mitologi dan realitas perubahan iklim yang kian nyata.

Di balik kabut pagi yang menyelimuti permukaannya, danau kawah purba ini tengah berbisik tentang ancaman yang tak bisa lagi diabaikan.

​Bagi masyarakat Kerinci, danau ini bukan sekadar cekungan air. Ia adalah jejak sejarah Naga Calungga. Legenda mencatat bahwa danau ini terbentuk dari gulingan tubuh manusia yang berubah menjadi naga raksasa setelah memakan telur sakti.

​Hingga saat ini, “Naga” tersebut masih hidup dalam bentuk penghormatan budaya. Pada Festival Budaya Kerinci yang baru saja usai Desember 2025, ribuan warga memadati tepian danau, membuktikan bahwa identitas naga adalah pengikat sosial yang membuat masyarakat tetap mencintai perairan ini.

​Namun, di balik romantisme mitos tersebut, kondisi ekologi Danau Kerinci di awal 2026 berada dalam status Siaga. Berdasarkan data terkini, terdapat tiga isu krusial yang membayangi:

  1. Anomali Debit Air: Tingginya curah hujan di awal tahun 2026 telah menyebabkan kenaikan muka air danau yang signifikan. Beberapa desa di pesisir danau kini berada dalam pengawasan ketat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akibat risiko banjir luapan.
  2. Invasi Gulma Hijau: Meskipun upaya pembersihan terus dilakukan, pertumbuhan eceng gondok tetap menjadi tantangan besar. Tumbuhan invasif ini tidak hanya mengganggu alur transportasi nelayan, tetapi juga mempercepat pendangkalan yang mengancam umur danau.
  3. Dilema Pintu Air: Pasca-kesepakatan besar pada Agustus 2025 antara warga dan pihak pengelola pintu air (Regulating Weir), pengawasan kini beralih pada efektivitas pengaturan debit air demi menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi listrik dan keselamatan lahan pertanian warga.

​Pemerintah Pusat melalui program Revitalisasi Danau Prioritas Nasional telah mengalokasikan anggaran khusus di tahun 2026 untuk pengerukan sedimen dan penataan kawasan pesisir. Tujuannya jelas: mengembalikan fungsi alami danau sebagai pengatur air alami sekaligus destinasi wisata kelas dunia.

​”Kita tidak bisa hanya menjual legenda. Jika ‘rumah’ sang naga rusak, maka hilang pula warisan anak cucu kita,” ujar seorang aktivis lingkungan lokal di kawasan Sangarantau.

​Meskipun dihantui isu ekologi, daya tarik Danau Kerinci tetap magnetis. Fasilitas jogging track baru dan dermaga wisata yang lebih modern kini telah tersedia bagi pelancong. Wisatawan di tahun 2026 tidak hanya diajak menikmati pemandangan, tetapi juga diedukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian ekosistem danau melalui program eco-tourism.

Danau Kerinci merupakan danau terbesar di Provinsi Jambi yang terletak di kaki Pegunungan Bukit Barisan. Berada pada ketinggian 710 mdpl, danau ini merupakan jantung kehidupan bagi ribuan nelayan, petani, dan menjadi sumber energi terbarukan bagi wilayah Sumatera bagian tengah