👁️ Dilihat: 198 kali

KERINCI – Di balik keindahan panorama Danau Kerinci yang menjadi ikon pariwisata Provinsi Jambi, tersimpan narasi besar tentang asal-usul pembentukannya yang melegenda. Lebih dari sekadar fenomena geologis, masyarakat setempat secara turun-temurun meyakini kisah dua bersaudara, Calungga dan Calupat, sebagai awal mula terciptanya danau vulkanik seluas 4.200 hektare ini.

Dari Telur Naga hingga Hamparan Air

Legenda bermula dari kisah Calungga dan Calupat, yatim piatu yang tinggal di kaki Gunung Kerinci. Puncak ketegangan cerita terjadi saat Calungga menemukan sebuah telur raksasa di hutan. Meski telah diperingatkan, Calungga memakan telur tersebut yang kemudian mengubah wujudnya menjadi seekor naga raksasa yang perkasa.

“Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan simbol hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan besar yang melingkupinya. Naga Calungga adalah personifikasi dari kekuatan alam Kerinci yang dahsyat,” ujar salah seorang tokoh adat setempat.

Naga Calungga kemudian melingkari gunung dan menyumbat aliran sungai, yang menyebabkan air meluap hebat hingga membentuk genangan raksasa. Inilah yang diyakini masyarakat sebagai titik awal terbentuknya Danau Kerinci. Sementara itu, sang adik, Calupat, tetap menjadi manusia dan dikenal sebagai leluhur yang bijaksana bagi suku Kerinci.

Warisan Budaya dan Identitas “Sekepal Tanah Surga”

Secara geologis, Danau Kerinci memang terbentuk akibat aktivitas tektonik dan vulkanik purba. Namun, bagi masyarakat lokal, keberadaan danau ini adalah “ruh” dari sebutan Sekepal Tanah Surga.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kerinci menyampaikan bahwa menjaga kelestarian Danau Kerinci berarti menjaga identitas sejarah. “Danau ini memberikan kehidupan bagi ribuan nelayan dan petani. Legenda Calungga mengajarkan kita untuk menghormati alam agar ia tetap memberikan berkah, bukan bencana,” ungkapnya.

Momentum Pelestarian di Tahun 2026

Melalui momentum tahun 2026 ini, Pemerintah Kabupaten Kerinci terus mendorong agar narasi asal-usul ini tetap hidup melalui festival budaya dan edukasi bagi generasi muda. Danau Kerinci kini tidak hanya menjadi sumber irigasi dan perikanan, tetapi juga menjadi pusat penelitian budaya yang menarik minat wisatawan mancanegara.

Saat matahari terbenam di ufuk barat, permukaan air Danau Kerinci yang tenang seolah membisikkan kembali kisah lama tentang persaudaraan, transformasi, dan keajaiban alam yang tetap abadi hingga hari ini.

Edi.T