👁️ Dilihat: 76 kali

Kerinci Suara Independent.com- Masa remaja adalah fase yang penuh dengan rasa ingin tahu. Ingin mencoba hal baru, ingin terlihat keren, atau sekadar ikut-ikutan teman. Sayangnya, rasa penasaran ini terkadang berlabuh di tempat yang salah, salah satunya adalah fenomena “ngelem” yang belakangan santer terdengar di berbagai sudut daerah kita.

Mungkin banyak orang tua bertanya-tanya, “Kenapa sih harus lem? Apa enaknya?”

Padahal, di balik sensasi sesaat yang dicari, ada bahaya besar yang mengintai saraf-saraf muda mereka. Media ini mencoba mengulas fenomena tersebut dari sisi psikologis dan medis, sebagai bahan renungan bersama.

Pelarian Murah Meriah yang Menipu

Faktor utama yang membuat lem begitu populer di kalangan remaja tak lain adalah harganya yang murah dan mudah didapat. Berbeda dengan narkotika yang harganya selangit, lem bisa dibeli dengan sisa uang jajan sekolah. Inilah yang membuat fenomena ini menyebar cepat bak virus.

Namun, di balik kemudahannya, ada alasan psikologis yang tak boleh diabaikan. Banyak remaja menjadikan aktivitas ini sebagai “pelarian”. Entah itu karena tekanan pelajaran, masalah keluarga, atau sekadar ketakutan dikucilkan teman (peer pressure). Mereka mencari sensasi “fly” atau ketenangan sesaat untuk melupakan masalah.

Bahaya Medis: Ibarat Kabel yang Terkelupas

Perlu dipahami bersama, sensasi melayang yang mereka rasakan sebenarnya adalah sinyal bahaya dari tubuh.

Merujuk pada data Badan Narkotika Nasional (BNN) dan literatur medis, zat pelarut (inhalan) dalam lem bekerja menekan sistem saraf pusat. Zat kimia neurotoksin perlahan-lahan “melarutkan” lapisan pelindung saraf otak.

Ibarat kabel listrik yang kulitnya terkelupas, saraf otak akan mengalami “korsleting”. Inilah yang menyebabkan efek jangka panjang berupa lambat berpikir (lemot), kesulitan bicara, hingga risiko kematian mendadak akibat gagal jantung (Sudden Sniffing Death) yang sering diingatkan oleh para praktisi kesehatan.

Rumah Adalah Benteng Pertahanan

Lantas, apa yang bisa dilakukan?

  1. Jadilah Pendengar, Bukan Hakim: Jika mendapati anak atau kerabat terlibat, amarah bukanlah solusi pertama. Rangkul mereka. Seringkali, anak ngelem hanya karena mereka merasa kesepian dan tidak didengar di rumah.

  2. Cek Rutin: Orang tua perlu waspada jika menemukan kaleng lem bekas, plastik bening berbau menyengat, atau aroma kimia pada pakaian anak.

  3. Alihkan ke Hobi Positif: Salurkan energi remaja yang meluap-luap ke arah olahraga, seni, atau kegiatan keagamaan.

Mari Peduli, Jangan Cuek

Masalah ini bukan hanya tanggung jawab polisi atau guru, tapi tanggung jawab kita semua. Bagi pemilik warung, mari kita sepakat untuk lebih selektif menjual lem. Bagi warga, tegurlah dengan kasih sayang jika melihat anak-anak berkumpul di tempat gelap.

Mari kita jadikan rumah dan lingkungan kita sebagai tempat ternyaman bagi mereka, agar mereka tidak perlu mencari “kenyamanan palsu” di dalam kaleng lem. Generasi muda Kerinci dan Sungai Penuh terlalu berharga untuk disia-siakan.

Penulis/Editor: Tim Redaksi Suara Independent Sumber Pengolah Data: BNN, Kemenkes RI, dan Riset Redaksi.