👁️ Dilihat: 37 kali

Jakarta — Penyakit Ginjal Kronis (Chronic Kidney Disease/CKD) bukan tanpa alasan dijuluki sebagai “silent killer”. Layaknya musuh dalam selimut, penyakit ini kerap berkembang secara senyap di dalam tubuh tanpa mengirimkan sinyal bahaya yang jelas pada tahap awal. Akibatnya, mayoritas pasien baru tersadar ketika organ vital ini sudah berada di ambang kerusakan parah.

Dr. Rosnawati Yahya, Konsultan Ahli Nefrologi dan Dokter Transplantasi Ginjal di Sunway Medical Centre, Selangor, Malaysia, mengungkapkan fakta medis yang cukup mengejutkan di balik fenomena ini.

“Tiga stadium pertama CKD biasanya berjalan tanpa gejala sama sekali. Jika Anda baru bertindak setelah gejala itu muncul, artinya Anda sudah terlambat,” tegas Dr. Rosnawati, seperti dikutip dari The Star.

Akar Masalah: Diabetes dan Hipertensi

Berdasarkan data medis, musuh utama ginjal sebenarnya berakar dari masalah metabolik harian yang sering disepelekan, yaitu diabetes dan tekanan darah tinggi.

Data dari Registrasi Dialisis dan Transplantasi Malaysia mencatat angka yang masif:

  • 56% kasus gagal ginjal dipicu oleh diabetes.

  • 30% kasus gagal ginjal disebabkan oleh hipertensi (tekanan darah tinggi).

Kedua kondisi ini perlahan tapi pasti mengikis fungsi ginjal baik pada pria maupun wanita dengan dampak yang sama fatalnya.

Sering Terkecoh: Gejala yang ‘Menyamar’ Sebagai Lelah Biasa

Mengapa pasien sering kecolongan? Dr. Rosnawati menjelaskan bahwa gejala awal CKD sangat mirip dengan keluhan harian biasa, sehingga sering kali diabaikan. Beberapa alarm tubuh yang wajib diwaspadai antara lain:

  • Kelelahan yang berkepanjangan dan tubuh terasa lemas tanpa sebab.

  • Frekuensi buang air kecil yang meningkat di malam hari.

  • Pembengkakan (edema) pada area kaki, pergelangan kaki, atau wajah.

“Bagi wanita, gejala-gejala ini sering kali dianggap sebagai hal lumrah—entah karena stres kerja, faktor penuaan, atau sekadar perubahan hormon biasa. Padahal, itu bisa jadi jeritan awal dari ginjal mereka,” urainya.

Jebakan Hasil Lab: Mengapa Wanita Lebih Berisiko Terabaikan?

Fakta menarik lainnya adalah hasil tes darah konvensional yang bisa menipu, terutama pada pasien wanita.

Dr. Rosnawati memaparkan bahwa wanita umumnya memiliki massa otot yang lebih sedikit dibanding pria. Karena kadar kreatinin (indikator fungsi ginjal) dipengaruhi oleh massa otot, angka yang terlihat “normal” di kertas laboratorium bisa jadi menyembunyikan penurunan fungsi ginjal tahap awal.

“Angka kreatinin 90 mungkin sangat baik untuk pria bertubuh kekar. Namun bagi wanita bertubuh mungil, angka tersebut bisa menjadi sinyal merah bahwa cadangan fungsi ginjalnya mulai menipis,” jelasnya.

Selain masalah massa otot, kaum hawa juga menghadapi risiko tambahan dari faktor biologis dan fase kehidupan mereka:

  • Penyakit Autoimun: Penyakit seperti Lupus (SLE) menyerang wanita 9 kali lebih banyak dibanding pria, dan penyakit ini sangat sering merusak ginjal.

  • Fase Kehamilan & Menopause: Komplikasi kehamilan seperti preeklampsia dan diabetes gestasional dapat melipatgandakan risiko penyakit ginjal kronis hingga 2-4 kali lipat di masa depan.

  • PCOS (Sindrom Ovarium Polikistik): Kondisi yang memicu resistensi insulin dan obesitas ini menjadi jembatan utama menuju diabetes dan hipertensi di usia muda.

Deteksi Dini: Mengubah Vonis Menjadi Harapan

Mengingat sifatnya yang sangat rahasia, Dr. Rosnawati sangat menyarankan bagi siapa saja—terutama wanita dengan faktor risiko seperti obesitas, diabetes, hipertensi, atau riwayat komplikasi kehamilan—untuk melakukan skrining rutin.

Kabar baiknya, Anda tidak perlu tes yang rumit. Cukup lakukan 3 langkah skrining sederhana ini:

  1. Tes Darah: Untuk melihat fungsi dan penyaringan ginjal.

  2. Tes Urine: Untuk mendeteksi keberadaan protein (salah satu tanda awal kebocoran/kerusakan ginjal).

  3. Pemeriksaan Tekanan Darah: Secara berkala.

“Deteksi dini mengubah segalanya karena dunia medis memiliki banyak opsi pengobatan untuk memperlambat kerusakan. Misi utama kami adalah pelestarian. Jika kita mampu menekan laju penurunan fungsi ginjal dari yang tadinya 10% per tahun menjadi hanya 2%, maka banyak pasien yang bisa diselamatkan dari keharusan menjalani cuci darah (dialisis) seumur hidupnya,” pungkas Dr. Rosnawati. (*)