JAKARTA β Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan kondisi penurunan fungsi organ penyaring darah yang terjadi secara perlahan dan progresif. Dalam tubuh manusia, ginjal bertindak sebagai sistem filtrasi utama yang menyaring limbah, racun, serta kelebihan cairan untuk dibuang melalui urine.
Ketika fungsi ini merosot, zat-zat sisa metabolisme yang beracun akan menumpuk di dalam aliran darah dan memicu komplikasi serius. Jika tidak ditangani secara tepat, kondisi ini dapat berujung pada gagal ginjal atau penyakit ginjal stadium akhir.
Memahami 5 TINGKATAN (Stadium) Penyakit Ginjal Kronis
Dokter mengukur tingkat keparahan fungsi ginjal berdasarkan laju filtrasi glomerulus atau Glomerular Filtration Rate (GFR). Angka GFR ini diperoleh melalui pemeriksaan laboratorium yang menghitung kadar kreatinin (produk limbah otot) di dalam darah.
Berikut adalah lima tahapan klinis penyakit ginjal kronis:
-
Stadium I (GFR: mL/min | Fungsi Ginjal: 90% β 100%) Ginjal masih mampu menyaring darah dengan sangat baik. Namun, pemeriksaan medis (seperti tes urine atau USG) sudah mendeteksi adanya tanda-tanda kerusakan ginjal ringan.
-
Stadium II (GFR: 60 β 89 mL/min | Fungsi Ginjal: 60% β 89%) Fungsi penyaringan ginjal mulai mengalami penurunan ringan. Tanda-tanda kerusakan fisik pada ginjal menjadi lebih terlihat dibandingkan stadium awal.
-
Stadium III-A (GFR: 45 β 59 mL/min | Fungsi Ginjal: 45% β 59%) Memasuki tahap ketiga, ginjal mulai mengalami penurunan fungsi tingkat ringan hingga sedang. Pada fase ini, gejala klinis biasanya mulai dirasakan pasien, seperti tubuh mudah lelah, lemas, serta muncul pembengkakan ringan pada tangan atau kaki.
-
Stadium III-B (GFR: 30 β 44 mL/min | Fungsi Ginjal: 30% β 44%) Kerusakan ginjal berada pada tingkat moderat (sedang) dan fungsinya menurun drastis. Dengan intervensi medis dan diet yang ketat, laju kerusakan pada stadium ini masih bisa dihambat agar tidak merosot ke stadium IV.
-
Stadium IV (GFR: 15 β 29 mL/min | Fungsi Ginjal: 15% β 29%) Kondisi ginjal sudah rusak parah dan berada di ambang kegagalan fungsi secara total. Pasien pada tahap ini membutuhkan pengawasan medis yang sangat intensif dari dokter spesialis nefrologi.
-
Stadium V (GFR: mL/min | Fungsi Ginjal: < 15%) Tahap gagal ginjal total atau penyakit ginjal stadium akhir. Karena organ sudah berhenti bekerja, pasien memerlukan tindakan terapi pengganti ginjal, yaitu dialisis (cuci darah) rutin atau transplantasi ginjal untuk bertahan hidup.
Kenali Gejala yang Sering Menyusup Tanpa Disadari
Pada stadium awal (1 dan 2), penyakit ginjal umumnya berjalan tanpa gejala (asimtomatik). Namun, seiring dengan menurunnya fungsi organ, tubuh akan mulai melepaskan rentetan sinyal bahaya berikut:
-
Frekuensi buang air kecil meningkat (terutama di malam hari).
-
Kelelahan ekstrem, tubuh lemas, dan tingkat energi merosot tajam.
-
Urine tampak berbusa pekat (kebocoran protein) atau berwarna keruh.
-
Pembengkakan (edema) pada area mata, tangan, kaki, hingga pergelangan kaki.
-
Kulit mendadak menjadi sangat kering, bersisik, gatal hebat, hingga tampak lebih gelap.
-
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, serta mengalami kram otot.
-
Sesak napas akibat penumpukan cairan, serta sulit berkonsentrasi atau gangguan tidur.
Gaya Hidup dan Faktor Risiko Utama
Tingginya asupan gula harian menjadi salah satu pemicu utama yang memaksa ginjal bekerja jauh lebih keras. Guna menjaga kesehatan organ ini, masyarakat sangat diimbau untuk membatasi konsumsi gula harian sesuai dengan anjuran WHO, yakni maksimal 50 gram atau setara dengan 4 sendok makan per hari.
“Konsumsi minuman manis secara berlebihan dapat mendongkrak risiko gangguan ginjal secara signifikan. Kandungan gula yang tinggi memicu lonjakan gula darah yang dalam jangka panjang menyebabkan obesitas, resistensi insulin, diabetes, hingga hipertensi. Kondisi-kondisi inilah yang menjadi motor utama kerusakan ginjal kronis,” jelas dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kemenkes RI.
Lebih lanjut, dr. Nadia juga menyoroti bahwa lonjakan kasus gagal ginjal belakangan ini juga dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini. Banyak pasien yang abai terhadap penyakit dasar mereka seperti diabetes dan hipertensi yang tidak terkontrol. Akibatnya, mereka baru datang ke fasilitas kesehatan saat fungsi ginjal sudah berada di stadium akhir dan langsung diwajibkan menjalani prosedur cuci darah.(*)





Tinggalkan Balasan