👁️ Dilihat: 56 kali

KERINCI MEDIA SINDENT – Dugaan masalah dalam proyek infrastruktur kembali mencuat di Kabupaten Kerinci. Proyek Preservasi Jalan BTS Kabupaten Merangin/Kerinci–Sanggaran Agung berlokasi di Desa Pengasi yang dikerjakan PT Air Tenang senilai Rp 4,14 miliar kini menjadi sorotan keras setelah bahu jalan yang baru selesai dalam hitungan bulan sudah mengalami retak-retak parah.

Pantauan di lokasi menunjukkan keretakan memanjang di sisi bahu jalan. Tidak hanya itu, beberapa titik sudah mengelupas dan memperlihatkan rongga di bawah struktur cor, memunculkan dugaan kuat bahwa campuran material dan mutu pekerjaan tidak memenuhi standar.

Kondisi ini membuat warga bertanya-tanya. Bagaimana mungkin proyek bernilai miliaran rupiah bisa rusak secepat ini?

Masyarakat juga menyoroti metode pelaksanaan yang sempat dilakukan dalam kondisi hujan, yang secara teknis bisa langsung merusak karakter beton. Menurut warga, pekerjaan tersebut sudah terlihat janggal sejak awal, namun tidak ada tindakan tegas dari pihak konsultan yang bertugas mengawasi.

Padahal proyek ini diawasi oleh konsultan gabungan PT Ekelia Mitra Consultant K.SO, PT Garis Putih Sejajar K.SO, dan PT Adhnascipta Dwipantura. Namun, masyarakat menilai pengawasan itu hanya sebatas formalitas.

“Seolah-olah pihak konsultan membiarkan saja pekerjaan ini berjalan tanpa standar. Kalau begini, yang rugi masyarakat,” ujar Lan, aktivis Kerinci, Senin (24/11/2025).

Warga juga menyuarakan keresahan atas hasil pembangunan yang dinilai tidak layak.

“Kami senang ada proyek jalan, tapi jangan asal dikerjakan. Baru berapa bulan selesai, bahu jalannya sudah retak. Coran macam apa yang dipakai? Konsultan seharusnya mengontrol, bukan diam saja,” kata Roki, warga Pengasi.

Sejumlah tokoh masyarakat mendesak pemerintah daerah, termasuk pihak Balai, agar segera turun melakukan audit fisik terhadap proyek tersebut. Mereka juga meminta pertanggungjawaban kontraktor dan konsultan apabila ditemukan indikasi kelalaian atau penggunaan material di bawah standar.

Hingga berita ini dirilis, pihak PT Air Tenang maupun tim konsultan belum memberikan pernyataan resmi terkait kerusakan dan kritik masyarakat tersebut