👁️ Dilihat: 52 kali

SUNGAI PENUH, MEDIA SINDENT – Ironis dan menyakitkan. Di tengah kampanye besar-besaran pemerintah soal kesehatan dan lingkungan, warga Simpang Tiga Rawang, Kecamatan Hamparan Rawang, Kota Sungai Penuh justru menghadapi ancaman paling mendasar: air kotor dari PDAM Tirta Khayangan.

Alih-alih menjadi sumber kehidupan dan kesehatan, air PDAM justru berubah menjadi sumber penyakit. Warga melaporkan air keruh, berwarna kecokelatan, dan berbau tidak sedap yang keluar dari keran rumah mereka. Bahkan, tak sedikit warga mengalami gatal-gatal hingga gangguan pencernaan.

“Airnya keruh, kadang cokelat seperti air sungai, dan bikin gatal setelah mandi,” ujar Gilang Antoni, warga setempat, Sabtu (18/10/2025), dikutip dari albrita.com.

Keluhan juga datang dari Andika, yang mengaku keluarganya mengalami diare dan infeksi kulit dalam beberapa minggu terakhir.

“Kami terpaksa beli air galon untuk minum. Tapi untuk mandi dan mencuci tetap pakai air PDAM karena tak ada pilihan lain,” ujarnya getir.

Temuan lapangan semakin memperkuat kecurigaan publik: 48 dari 50 kepala keluarga di kawasan tersebut melaporkan gejala serupa. Dugaan kuat, air dari PDAM Tirta Khayangan telah tercemar limbah.

Sumber air PDAM berasal dari Sungai Batang Merao, yang kini menjadi muara limbah aktivitas galian C liar dan sampah rumah tangga dari Kabupaten Kerinci. Limbah ini diduga kuat ikut tersedot ke dalam sistem distribusi PDAM, dan tidak tersaring secara maksimal oleh instalasi pengolahan air.

Muncul pertanyaan besar, Apakah PDAM Tirta Khayangan benar-benar melakukan uji laboratorium secara berkala? Di mana transparansi hasilnya? “Kalau terus begini, kami takut anak-anak makin sering jatuh sakit,” kata Gilang.

Warga menuntut langkah tegas dan segera, bukan janji kosong. Mereka meminta,PDAM segera memperbaiki sistem penyaringan air, Membuka hasil uji laboratorium ke publik, Pemerintah Kota Sungai Penuh melakukan audit menyeluruh terhadap kualitas air, Pemkab Kerinci menertibkan galian C dan sumber pencemar di hulu Sungai Batang Merao.

“Air itu hak dasar warga, bukan barang mewah. Kalau pemerintah tak bisa jamin air bersih, itu kegagalan total,” tegas salah satu tokoh masyarakat.

Masalah ini bukan sekadar soal teknis. Ini adalah cermin bobroknya tata kelola air bersih di tingkat daerah. Sumber air tercemar, sistem pengolahan yang lemah, dan tidak adanya transparansi menunjukkan bahwa pengawasan terhadap layanan publik vital ini sangat lemah.

Kini, warga tak hanya kehilangan kepercayaan. Mereka juga diambang kehilangan kesehatan. Jika tak segera ditindak, krisis ini bisa meluas dan menjadi bencana kesehatan masyarakat.

“Kami tidak minta banyak. Cukup air bersih. Karena air bukan kemewahan itu hak hidup,” pungkas warga.