👁️ Dilihat: 55 kali

Sungaipenuh MEDIA SINDENT –  Keberadaan sebuah beduk tua yang memiliki nilai sejarah tinggi sebagai alat syiar agama Islam, kini menyisakan keprihatinan mendalam karena kondisinya tidak terawat dengan baik. Beduk berusia ratusan tahun yang berada di Surau Desa Pondok Agung, Kecamatan Pondok Tinggi, dulunya menjadi penanda waktu salat sekaligus sarana mempersatukan umat.

Kini, peninggalan berharga itu tampak tergeletak tanpa kepedulian. Kayu penyangganya mulai lapuk, bagian dalam beduk menghitam dimakan usia, sementara sekelilingnya dipenuhi sampah dan tumpukan material. Suara lantang yang dahulu menggema memanggil umat untuk beribadah, kini berganti dengan kesunyian dan debu yang menutupi tubuh tuanya.

Bagi masyarakat, kondisi ini sungguh menyedihkan. Beduk yang dulu menjadi kebanggaan surau dan bukti syiar Islam di masa lampau, kini justru terabaikan. “Beduk ini peninggalan leluhur, sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Kalau dibiarkan rusak, kita akan kehilangan salah satu warisan Islam yang sangat berharga,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat dengan nada prihatin.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pihak terkait segera turun tangan. Beduk tua ini dinilai tidak hanya sebagai alat ibadah, tetapi juga saksi sejarah yang layak dijadikan cagar budaya. Jika dirawat dan dilestarikan, beduk tersebut bisa menjadi kebanggaan umat sekaligus warisan spiritual yang tak ternilai bagi generasi mendatang.

Lebih dari itu, keberadaan beduk ini seharusnya menjadi pengingat bagi umat Islam akan pentingnya menjaga warisan syiar dan sejarah keagamaan. Jangan sampai simbol perjuangan dakwah yang dulu begitu lantang menyatukan jamaah, kini hilang ditelan waktu hanya karena kurangnya kepedulian. Merawat beduk tua ini bukan sekadar menjaga benda, tetapi juga menjaga ruh kebersamaan umat dan warisan iman yang diwariskan oleh para leluhur.

Penulis : Edi Tanjung

Editor : Edi Tanjung