Oleh:Lia Maulal Hidiyati
Mahasiswa Prodi S-1 Kebidanan FIKES UNDHARI
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, khususnya di kalangan remaja. Media sosial kini menjadi sarana utama bagi remaja untuk berinteraksi, berbagi informasi, dan mengekspresikan diri.
Kehadiran media sosial memberikan kemudahan dalam berkomunikasi tanpa batas ruang dan waktu, namun juga membawa berbagai konsekuensi terhadap perilaku remaja. Secara faktual, hampir seluruh remaja saat ini memiliki akun media sosial dan menggunakannya setiap hari.
Media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan WhatsApp telah menjadi bagian dari rutinitas harian remaja. Fakta menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial yang tinggi berdampak langsung pada perubahan pola hidup, seperti berkurangnya waktu belajar, kurangnya interaksi sosial secara langsung, serta menurunnya aktivitas fisik.
Fakta lain menunjukkan bahwa media sosial dapat memengaruhi cara berpikir dan bersikap remaja. Remaja cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain berdasarkan apa yang mereka lihat di media sosial. Hal ini sering menimbulkan rasa tidak percaya diri, kecemasan, dan tekanan psikologis.
Selain itu, munculnya budaya mencari popularitas melalui jumlah likes, komentar, dan pengikut mendorong remaja melakukan berbagai tindakan demi mendapatkan pengakuan. Media sosial juga menjadi sarana penyebaran konten negatif.
Fakta menunjukkan bahwa remaja sangat mudah terpapar konten kekerasan, pornografi, ujaran kebencian, serta perilaku menyimpang lainnya. Selain itu, maraknya perundungan daring (cyberbullying) menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental remaja, bahkan dalam beberapa kasus menyebabkan trauma berkepanjangan.
Di sisi lain, fakta juga menunjukkan bahwa media sosial memiliki dampak positif jika digunakan dengan bijak. Media sosial dapat menjadi sarana pembelajaran, pengembangan kreativitas, serta wadah untuk menyalurkan bakat dan minat remaja.
Banyak remaja yang memanfaatkan media sosial untuk belajar mandiri, berbagi karya, dan membangun jejaring positif. Secara opini, permasalahan utama bukan terletak pada media sosial, melainkan pada kurangnya literasi digital dan pengawasan.
Banyak pihak berpendapat bahwa remaja belum sepenuhnya memiliki kemampuan untuk menyaring informasi dan mengatur waktu penggunaan media sosial. Oleh karena itu, bimbingan dari orang tua dan pendidik sangat diperlukan.
Opini lain menyatakan bahwa media sosial seharusnya dijadikan alat edukatif yang mendukung perkembangan remaja. Dengan pemanfaatan yang tepat, media sosial dapat membantu remaja menjadi lebih kreatif, kritis, dan produktif di era digital.
Pengaruh media sosial terhadap perilaku remaja bersifat dua sisi. Fakta menunjukkan adanya dampak negatif jika digunakan secara berlebihan dan tanpa pengawasan, sementara opini menegaskan bahwa media sosial juga memiliki manfaat besar.
Oleh karena itu, diperlukan peran keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membimbing remaja agar mampu menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.





Tinggalkan Balasan