👁️ Dilihat: 62 kali

DHARMASRAYA, SUARA INDEPENDENT.COM — Di tengah derasnya arus digital yang semakin memengaruhi pola pengasuhan dan kehidupan anak, Rumah Baca Marenda Kabupaten Dharmasraya menghidupkan kembali salah satu tradisi Minangkabau melalui Lomba Manjujai Anak bertajuk “Dendang Kasih, Warisan Budaya”.

Kegiatan yang digelar Sabtu (26/9/2026) di Auditorium Dara Jingga Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI) tersebut bukan sekadar ajang perlombaan. Lebih dari itu, kegiatan menjadi ruang untuk mengenalkan kembali tradisi Manjujai sebagai bagian dari warisan budaya, bahasa, kasih sayang, sekaligus pendidikan karakter bagi generasi muda.

Kegiatan ini mendapat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat melalui Program Fasilitasi Kebudayaan Tahun 2026.

Pendiri sekaligus Ketua Rumah Baca Marenda, Dr. Amar Salahuddin, M.Pd., menegaskan bahwa Manjujai memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar dendang untuk menidurkan anak.

Menurutnya, dalam tradisi Manjujai terdapat pesan kasih sayang, doa, nasihat, nilai keagamaan, bahasa, serta pendidikan karakter yang selama ini diwariskan masyarakat Minangkabau dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Manjujai bukan hanya tentang menidurkan anak, tetapi tentang bagaimana kasih sayang, doa, petuah, bahasa, dan nilai budaya ditanamkan sejak dini. Tradisi ini harus kembali mendapat ruang agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Amar.

Semarak kegiatan terlihat dari keterlibatan 35 peserta yang tergabung dalam 14 grup Bundo Kanduang dari berbagai nagari di Kabupaten Dharmasraya.

Dengan mengenakan busana tradisional Minangkabau, para peserta menampilkan Manjujai melalui lantunan dendang, pantun, petuah, doa hingga ayat suci Al-Qur’an.

Ragam penampilan tersebut memperlihatkan bahwa Manjujai tidak hanya memiliki nilai seni bertutur, tetapi juga menjadi media untuk menyampaikan pesan kehidupan kepada anak sejak usia dini.

Di balik setiap dendang yang dilantunkan, tersimpan nilai kasih sayang orang tua, pendidikan, bahasa daerah, norma agama dan kearifan lokal yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Minangkabau.

Tradisi yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan keluarga tersebut kini dihadirkan kembali ke ruang publik agar tidak sekadar menjadi kenangan bagi generasi terdahulu.

Kepala Dinas Budparpora Kabupaten Dharmasraya, H. Reno Lazuardi, S.Pd., M.Si., memberikan apresiasi terhadap langkah Rumah Baca Marenda yang menghadirkan kembali Manjujai di tengah masyarakat.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, komunitas, masyarakat, keluarga serta generasi muda agar kebudayaan daerah tetap hidup dan dipraktikkan.

“Pemerintah Kabupaten Dharmasraya sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas Rumah Baca Marenda. Manjujai merupakan kekayaan budaya yang harus kita jaga, hidupkan, dan wariskan. Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya daerah,” ujarnya.

Setelah melalui proses penilaian dewan juri, Nagari Sopan Jaya berhasil meraih Juara I Lomba Manjujai.

Posisi Juara II diraih Nagari Sungai Dareh, sedangkan Juara III diraih Nagari Koto Baru.

Sementara itu, Harapan I diraih Nagari Abai Siat, Harapan II Nagari Ampang Kuranji, dan Juara Favorit diraih Nagari Sungai Kambut.

Meski terdapat peserta yang keluar sebagai juara, semangat utama kegiatan bukan semata-mata mengejar kemenangan. Setiap kelompok membawa pesan yang sama, yakni menjaga agar tradisi Manjujai tetap dikenal, dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Amar Salahuddin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.

Apresiasi disampaikan kepada Dinas Budparpora Kabupaten Dharmasraya, Rektor UNDHARI, Kapolres Dharmasraya, Kapolsek Koto Baru, LKAAM Kabupaten Dharmasraya, Pengurus Bundo Kanduang Kabupaten Dharmasraya, pengurus Bundo Kanduang tingkat kecamatan dan nagari, para wali nagari se-Dharmasraya, tamu undangan, peserta, panitia serta seluruh pihak yang ikut menyukseskan kegiatan.

“Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan semua pihak. Festival ini bukan semata tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang ikhtiar bersama menjaga agar dendang kasih Manjujai tidak hilang ditelan zaman,” kata Amar.

Melalui kegiatan tersebut, Rumah Baca Marenda juga ingin memperluas pemaknaan terhadap literasi.

Literasi, menurut semangat yang dibawa dalam kegiatan itu, tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca buku dan menulis. Literasi juga berarti memahami akar budaya, mengenal identitas daerah, merawat ingatan kolektif dan meneruskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi berikutnya.

Di tengah perubahan zaman, dendang Manjujai menjadi pengingat bahwa pendidikan pertama seorang anak tidak selalu hadir dari ruang kelas. Ia juga tumbuh dari keluarga, bahasa, doa, kasih sayang dan kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Melalui “Dendang Kasih, Warisan Budaya”, Rumah Baca Marenda menunjukkan bahwa merawat tradisi bukan berarti menolak perubahan zaman, melainkan memastikan kemajuan tetap berjalan tanpa membuat generasi muda kehilangan akar budayanya.

Penulis : Amar Salahudin