👁️ Dilihat: 191 kali

JAKARTA – Kementerian Kesehatan RI mulai memperkuat langkah antisipasi dan deteksi dini menyusul munculnya klaster infeksi Hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar di Samudra Atlantik.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan World Health Organization untuk memperoleh panduan terkait sistem skrining dan pengawasan kasus.

Menurut Menkes, pemerintah terus memantau perkembangan situasi global guna memastikan langkah pencegahan dapat dilakukan secara cepat dan tepat.

“Kita sudah koordinasi dengan WHO untuk mendapatkan panduan terkait proses screening dan pengawasan,” ujar Budi Gunadi Sadikin di Gedung Kemenkes.

Berdasarkan informasi WHO, kasus yang muncul saat ini masih terkonsentrasi pada klaster tertentu dan belum meluas ke wilayah lain.

Sebagai langkah kesiapsiagaan, Kemenkes mulai menyiapkan sistem skrining, termasuk dukungan rapid test dan reagen untuk pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Pemerintah juga memperkuat sistem surveilans kesehatan untuk meningkatkan deteksi dini.

“Sekarang kita fokus pada penguatan surveilans agar jika ada perkembangan dapat ditangani lebih cepat,” tambahnya.

Sementara itu, Epidemiolog Dicky Budiman menjelaskan bahwa Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang berasal dari hewan pengerat, terutama tikus liar.

Penularan umumnya terjadi melalui lingkungan yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus pembawa virus. Meski demikian, penularan antarmanusia dilaporkan sangat jarang terjadi.

Dicky mengimbau masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan area yang berpotensi terkontaminasi hewan pengerat.

WHO sebelumnya melaporkan adanya sejumlah kasus terkait klaster infeksi Hantavirus di kapal pesiar wilayah Samudra Atlantik. Hingga kini investigasi epidemiologi dan pemantauan kasus masih terus berlangsung. (*)