👁️ Dilihat: 76 kali

Kerinci, Jambi  Media Sindent –  Dahulu kala, wilayah Kerinci dikenal sebagai kawasan hutan belantara yang sejuk dan indah. Kini sebagian besar lingkungannya menjadi bagian dari Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Namun, di balik panorama alamnya, Kerinci menyimpan sejarah panjang yang sarat legenda dan bukti peradaban kuno.

Asal Nama Kerinci

Nama “Kerinci” sendiri memiliki banyak tafsir. Sebagian menyebut berasal dari kata kering-cair, merujuk pada curah hujan yang tidak menentu. Ada pula versi lain yang mengaitkannya dengan kata ci-ci (anak kunci). Dalam legenda Tiang Bungkuk Panduko Rajo dari Tiongkok, anak kunci yang diyakini sebagai pembuka rahasia Kerinci disebut hilang di sekitar Danau Kerinci.

Legenda Indar Jati dan Indarbaya

Asal-usul masyarakat Kerinci juga dikaitkan dengan tokoh legendaris Iskandar Zulkarnaen. Menurut penuturan Uhang Kincai Umar Ali (60), mantan Depati Atur Bumi, dari perkawinannya dengan Zailun, Iskandar menurunkan anak bernama Indar Jati, yang kemudian bermigrasi ke Sumatera Barat.

Indar Jati menikah dengan Indi Jelatang dan melahirkan dua keturunan penting: Datuk Perpatih Nan Sebatang dan Indarbaya. Indarbaya inilah yang berlayar menuju Luhak Alam Kerinci, membawa pusaka berupa payung, tombak, keris, tongkat, dan seekor kambing. Dari keturunan Indarbaya lahir tokoh adat yang kemudian membagi wilayah Kerinci menjadi Latih Enam Luhah Alam Kerinci dan Depati Empat Alam Kerinci.

Warisan Pusaka

Beberapa pusaka peninggalan leluhur seperti tombak dan gading gajah masih tersimpan di rumah pusaka Atur Bumi. Konon, jika diritualkan pada musim kemarau, pusaka ini dapat mendatangkan hujan. Hingga kini, pusaka itu hanya dimandikan secara sakral dalam kenduri pusako yang dilaksanakan lima tahun sekali.

Sistem Adat dan Waris

Menariknya, jauh sebelum sistem hukum modern lahir, masyarakat Kerinci sudah mengenal aturan pembagian waris yang rapi. Awalnya menggunakan sistem matrilineal (garis ibu), lalu berkembang ke parental (ayah-ibu). Hal ini menunjukkan kecerdasan sosial masyarakat Kerinci dalam menjaga keadilan sejak ribuan tahun silam.

Bukti Arkeologi

Selain legenda, bukti fisik juga memperkuat keberadaan peradaban tua Kerinci. Sejumlah artefak ditemukan di sekitar Danau Kerinci hingga Gunung Raya, seperti kapak genggam, obsidian (mikrolith), manik-manik, keramik Cina, hingga tulisan kuno Incung.

Pada 2003, tim peneliti dari Jerman menemukan fragmen keramik Dinasti Sung, Qin, Ming, dan Yuan, serta makam kuno di Tamia sepanjang 125 meter yang diperkirakan berasal dari 500 tahun sebelum Masehi.

Pandangan Peneliti Dunia

Banyak peneliti asing menaruh perhatian pada Kerinci.

  • Prof. Dr. Jasven Ali (Australia, 1963) menyebut orang Kerinci termasuk ras Melayu Tua (Proto Melayu).

  • Dr. David Sundbukht (Swedia, 1980) dan Dr. J.P.H. Duyhendak (Belanda, sebelum Perang Dunia II) juga meneliti jejak antropologinya.

  • Bill Watson (Inggris, 1975) bahkan menegaskan bahwa “Kerinci sudah terkenal di dunia karena bukti sejarahnya yang tua.”

Pusat Peradaban Melayu Tua

Dari legenda Indar Jati hingga penelitian arkeologi modern, jelas bahwa Kerinci bukan sekadar kawasan wisata alam. Ia adalah pusat peradaban tua di jantung Sumatera, tempat lahirnya sistem adat, budaya, dan bukti arkeologi yang menegaskan jejak panjang Melayu Tua di Nusantara.