👁️ Dilihat: 167 kali

Kerinci MSNC  – Desa Gunung Labu, Kecamatan Kayu Aro Barat, kembali bersinar dengan pelaksanaan tradisi tahunan Gebyar Suro – Sedekah Bumi, yang digelar setiap awal bulan Suro. Tradisi yang kental dengan budaya Jawa ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen mereka selama setahun, diwujudkan dalam bentuk Gegunungan Sayuran—tumpukan kentang, kol, wortel, dan sayuran segar hasil bumi lokal.

Kemeriahan acara tahun ini semakin lengkap dengan kehadiran langsung Bupati Kerinci, H. Monadi, yang datang dengan penuh semangat dan antusiasme. Bupati Monadi menyatu bersama masyarakat, menikmati setiap rangkaian kegiatan, serta menunjukkan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya lokal dan penguatan ekonomi desa.

“Saya sangat bangga dan terharu melihat semangat masyarakat Gunung Labu. Tradisi seperti ini adalah kekayaan daerah yang harus kita jaga dan dukung bersama. Harapannya, semangat ini bisa menular ke desa-desa lain di Kayu Aro dan seluruh Kerinci,” ujar Bupati Monadi dalam sambutannya.

Turut mendampingi dalam acara tersebut, dua anggota DPRD Kabupaten Kerinci: Jumadi dan Dusi, yang juga memberikan apresiasi tinggi terhadap kreativitas dan kekompakan warga dalam menjaga tradisi.

Menurut tokoh masyarakat Tika Seno, Gebyar Suro bukan sekadar perayaan, melainkan bentuk nyata dari filosofi petani yang selalu dekat dengan alam dan penuh syukur.

“Kami para petani sangat menghargai hasil bumi yang kami panen. Gegunungan sayur ini adalah wujud rasa syukur kami, dan kami bangga bisa menampilkannya kepada Bupati dan masyarakat luas,” tutur Tika.

Acara berlangsung meriah, disemarakkan oleh hiburan rakyat, atraksi seni budaya, dan kekompakan warga dari berbagai kalangan. Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Kerinci hadir memadati lokasi untuk menyaksikan perayaan adat yang penuh makna.

Di tengah potensi besar Kayu Aro sebagai sentra sayuran unggulan yang telah menembus pasar nasional hingga internasional, Bupati Monadi juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperjuangkan kesejahteraan petani, terutama dari tekanan harga pasar yang tidak stabil.

“Kita tidak boleh hanya bangga dengan hasil panen. Kita juga harus pastikan petani mendapat hak dan kesejahteraan yang layak. Tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa pertanian adalah fondasi hidup masyarakat Kerinci,” tegas Bupati Monadi.

Gebyar Suro di Gunung Labu bukan hanya tradisi tahunan, melainkan warisan budaya yang mengakar kuat dan menjadi simbol persatuan, harapan, dan perjuangan masyarakat tani Kerinci. Dengan kehadiran dan dukungan penuh Bupati Monadi, tradisi ini diharapkan akan semakin dikenal dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain.

Edi Tanjung