👁️ Dilihat: 709 kali

Kerinci Suara Independent.com – Sebuah skandal manajemen air di Desa Pengasilama mendadak jadi buah bibir. Pamsimas yang seharusnya menjadi solusi, kini dituding menjadi biang kerok penderitaan warga RT 4. Sudah 3 bulan lamanya, kucuran air ke rumah warga macet total, sementara wilayah lain justru “pesta air” tanpa henti.

Warga mulai mencium adanya aroma diskriminasi dalam pembagian jatah air. Dugaan muncul bahwa ada perlakuan istimewa bagi pihak tertentu, sementara RT 4 dipaksa menelan “pil pahit” kekeringan.

“Kalau musim kemarau air menyusut itu wajar. Sekarang tiap hari hujan, tapi keran kami tetap kering kerontang! Apa ada istilah anak kandung dan anak tiri dalam pembagian air ini?” cetus seorang warga dengan nada tinggi.

Tragisnya, penderitaan ini mencapai puncaknya di bulan suci Ramadan. Di saat warga lain khusyuk beribadah, warga RT 4 harus pontang-panting ke sungai hanya untuk sekadar mandi, mencuci, bahkan mengambil air wudhu untuk sholat.

Jawaban pengelola? “Sabar, sedang perbaikan.” Sebuah alasan klasik yang dinilai warga sebagai omong kosong belaka mengingat durasinya yang sudah berjalan 3 bulan tanpa hasil nyata.

Kemarahan warga sudah di ubun-ubun. Mereka menuntut pengurus Pamsimas segera:

  1. Sidak Nyata ke Lokasi: Jangan cuma percaya laporan “Asal Bapak Senang” (ABS). Turun ke lapangan, lihat pipa warga yang berdebu karena tak dialiri air!

  2. Tindak Tegas “Pencuri” Air: Warga mendesak sanksi cabut sambungan bagi rumah yang membiarkan keran terbuka tanpa aturan.

  3. Denda Rp 200 Ribu: Terapkan denda bagi siapa pun yang melanggar agar distribusi air merata dan adil.

“Pamsimas itu untuk rakyat, bukan untuk segelintir orang! ” tegas perwakilan warga yang merasa terzolimi.

Edi T