SUNGAI PENUH,SUARAĀ INDEPENDENT.COM –Ā Persoalan sampah yang masih ditemukan di sejumlah titik di Kota Sungai Penuh kembali menjadi perhatian masyarakat. Kondisi tersebut sekaligus mengingatkan kembali adanya rencana bantuan sarana dan prasarana pengelolaan sampah dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang sebelumnya dijanjikan kepada Pemerintah Kota Sungai Penuh.
Rencana bantuan tersebut mencuat setelah Wali Kota Sungai Penuh Alfin bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sungai Penuh, Wahyu Rahman Dedy, melakukan audiensi dengan pihak KLH beberapa waktu lalu.
Dalam pertemuan tersebut, pihak KLH disebut menjanjikan dukungan sarana dan prasarana untuk memperkuat penanganan persoalan sampah di Kota Sungai Penuh. Bantuan tersebut dinilai penting mengingat pengelolaan sampah membutuhkan dukungan peralatan yang memadai, terutama untuk menunjang operasional petugas di lapangan.
Salah satu sarana yang dinilai dibutuhkan adalah alat berat seperti excavator, yang dapat dimanfaatkan untuk membantu penanganan tumpukan sampah serta mendukung berbagai kegiatan operasional DLH.
Namun, rencana bantuan tersebut sempat menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat. Pergantian pimpinan di lingkungan KLH sebelumnya disebut turut memengaruhi proses realisasi bantuan.
Masyarakat pun berharap rencana tersebut tidak berhenti sebagai janji atau sebatas hasil audiensi, melainkan benar-benar diwujudkan dalam bentuk bantuan yang dapat segera digunakan untuk menangani persoalan sampah di daerah.
Harapan itu semakin menguat setelah kembali ditemukan tumpukan sampah di tepi jalan kawasan Desa Koto Lolo, Kecamatan Pesisir Bukit. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan persampahan masih membutuhkan perhatian serius dan dukungan sarana yang memadai.
Menanggapi persoalan tersebut, Kepala DLH Kota Sungai Penuh Wahyu Rahman Dedy, saat dikonfirmasi pada Kamis (3/9/2026), mengakui bahwa proses realisasi bantuan dari KLH memang sempat mengalami kendala.
Menurut Wahyu, kendala tersebut berkaitan dengan adanya pergantian pimpinan di lingkungan KLH. Meski demikian, DLH Kota Sungai Penuh mengaku tidak tinggal diam dan terus melakukan komunikasi dengan pihak KLH untuk memastikan rencana bantuan tetap berjalan.
āMemang ada kendala dalam realisasi bantuan tersebut karena waktu itu terjadi pergantian menteri di KLH. Namun, kami tetap intensif berkomunikasi, baik melalui telepon maupun WhatsApp, agar bantuan tersebut tetap terlaksana,ā ujar Wahyu.
Ia menyampaikan bahwa komunikasi yang dilakukan mulai menunjukkan perkembangan positif. Bahkan, menurutnya, saat ini sudah terdapat titik terang mengenai realisasi bantuan sarana dan prasarana pengelolaan sampah untuk Kota Sungai Penuh.
āAlhamdulillah, sekarang sudah mulai ada titik terang. Dalam waktu dekat KLH akan menepati janjinya untuk memberikan bantuan sarana dan prasarana sampah bagi Kota Sungai Penuh. Insyaallah bantuan tersebut akan segera diberikan,ā katanya.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini berharap adanya penguatan fasilitas pengelolaan sampah di Kota Sungai Penuh.
Namun demikian, masyarakat tentu tidak hanya membutuhkan kepastian secara lisan. Mereka menunggu realisasi konkret bantuan tersebut agar dapat segera dimanfaatkan untuk mendukung penanganan sampah di lapangan.
Terlebih, masih ditemukannya tumpukan sampah di sejumlah lokasi menunjukkan bahwa persoalan persampahan tidak cukup hanya ditangani melalui pengangkutan rutin. Dibutuhkan dukungan sarana, tenaga, sistem pengelolaan, serta pengawasan yang berjalan secara berkelanjutan.
Masyarakat juga berharap bantuan dari KLH nantinya benar-benar diarahkan untuk memperkuat pelayanan persampahan, mulai dari pengangkutan, pengelolaan, penanganan titik-titik rawan pembuangan sampah hingga pengawasan di lapangan.
Dengan demikian, persoalan tumpukan sampah yang kembali muncul di sejumlah kawasan tidak hanya ditangani setelah menjadi sorotan publik, tetapi dapat dicegah melalui sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Kini, publik tinggal menunggu satu hal: kapan bantuan yang disebut sudah memiliki ātitik terangā tersebut benar-benar tiba dan mulai digunakan untuk masyarakat Kota Sungai Penuh?
Edi Tanjung





Tinggalkan Balasan