👁️ Dilihat: 45 kali

Eropa – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa sejak pertengahan Juni 2026 telah menewaskan lebih dari 1.300 orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut fenomena cuaca ekstrem tersebut telah berkembang menjadi krisis kesehatan masyarakat yang membutuhkan respons cepat dari setiap negara.

Berdasarkan laporan WHO, sedikitnya 1.300 kematian berlebih tercatat sejak 21 Juni 2026, seiring melonjaknya suhu hingga memecahkan rekor di berbagai kawasan Eropa. Sekitar 150 juta penduduk kini hidup di bawah ancaman panas ekstrem yang berdampak terhadap kesehatan, aktivitas masyarakat, hingga infrastruktur publik.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan suhu tinggi tidak hanya meningkatkan angka kematian, tetapi juga menyebabkan penutupan sekolah dan memberikan tekanan besar terhadap sistem kelistrikan serta layanan kesehatan.

“Lebih dari 1.300 kematian berlebih telah tercatat sejak 21 Juni yang terkait dengan suhu tinggi di Eropa,” ujar Tedros dalam keterangannya.
WHO menilai gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan ancaman serius bagi kesehatan global. Organisasi tersebut kini bekerja sama dengan berbagai negara untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat sistem pelayanan kesehatan, serta mendorong setiap pemerintah menerapkan rencana aksi penanganan dampak suhu ekstrem.

Di Prancis, Kementerian Kesehatan melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan akibat gelombang panas yang terjadi sejak akhir Juni. Puncak suhu ekstrem pada 23 Juni menyebabkan lonjakan angka kematian harian hingga lebih dari 1.400 kasus.

Kelompok lanjut usia menjadi korban paling rentan dengan persentase mencapai 85 persen dari total korban meninggal. Peningkatan kematian terjadi di rumah sakit, panti jompo, maupun di rumah tinggal, terutama di wilayah yang berstatus peringatan merah.

Pemerintah Prancis menegaskan data tersebut masih bersifat sementara karena baru mencakup sekitar 60 persen laporan kematian nasional.

Sementara itu, Jerman kembali mencatat rekor suhu tertinggi mencapai 41,7 derajat Celsius pada Minggu (28/6). Data sementara Dinas Cuaca Jerman (DWD) menunjukkan suhu tersebut tercatat di wilayah Coschen, Brandenburg, dan masih menunggu proses verifikasi resmi.
Rekor suhu juga terjadi selama tiga hari berturut-turut di sejumlah wilayah Jerman, termasuk Sachsen-Anhalt dan Sachsen. Tidak hanya Jerman, Polandia dan Republik Ceko juga mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius.

Di Republik Ceko, Desa Doksany yang berada sekitar 50 kilometer dari Praha mencatat suhu 41,9 derajat Celsius, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah pengamatan resmi negara tersebut.

Institut Meteorologi Ceko (CHMI) menyatakan suhu ekstrem dipicu aliran udara panas dari wilayah barat daya yang melanda kawasan Eropa Tengah. Meski suhu sangat tinggi, aktivitas masyarakat di sejumlah daerah masih berlangsung, termasuk warga yang memadati sungai dan kawasan air untuk mencari kesejukan.

Dampak panas ekstrem juga mulai mengganggu infrastruktur. Di Kota Leipzig, Jerman timur, layanan trem terpaksa dihentikan setelah suhu di atas 40 derajat Celsius menyebabkan aspal meleleh dan merusak rel kereta. Otoritas transportasi setempat menghentikan operasional trem selama akhir pekan demi alasan keselamatan, sementara layanan bus tetap beroperasi.

Sejumlah ilmuwan iklim menyebut gelombang panas yang melanda Eropa saat ini sangat berkaitan dengan perubahan iklim global. Berdasarkan kajian World Weather Attribution (WWA), fenomena panas ekstrem seperti yang terjadi sekarang hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim dan kini diperkirakan 200 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan beberapa dekade lalu.

Fenomena tersebut menjadi peringatan bagi negara-negara di dunia untuk memperkuat strategi mitigasi perubahan iklim sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi cuaca ekstrem yang diperkirakan akan semakin sering terjadi. (*)