👁️ Dilihat: 45 kali

SINGAPURA – Lebih dari tiga bulan sejak perang Iran meletus pada 28 Februari lalu, efek domino dari krisis geopolitik di Timur Tengah kini telah menjalar jauh melampaui bursa minyak mentah global. Seperti dikutip dari media CNA, memasuki hari ke-100 pada 8 Juni, gangguan pada jalur energi dan pelayaran strategis mulai memukul kehidupan sehari-hari warga di Asia Tenggara—mulai dari proyek pengaspalan jalan di Malaysia hingga pelaku usaha kuliner di Indonesia.

Konflik ini telah menyumbat arus perdagangan di Selat Hormuz, jalur urat nadi pengiriman minyak dan gas ke Asia. Akibatnya, biaya logistik dan harga material berbasis minyak bumi melonjak tajam, memicu efek rantaian pada berbagai komoditas regional.

Bagi para pelaku industri infrastruktur, volatilitas harga saat ini menjadi momok yang menakutkan. Sukumar Subrayalu, pendiri sekaligus direktur pelaksana perusahaan kontraktor Malaysia, Sugu Construction, membagikan kisah pahitnya kepada CNA:

  • Lonjakan Harga Bitumen: Material utama aspal jalan meroket 70%, dari RM1.700 (Rp7,5 juta) menjadi hampir RM2.900 (Rp12,8 juta) per ton.

  • Kenaikan Solar: Harga bahan bakar solar membubung hingga lebih dari 80%.

  • Modifikasi Anggaran Dadakan: Pemasok kini mengubah harga dalam hitungan hari, mencekik kontraktor yang terikat proyek bernilai tetap (fixed-price contracts).

“Pada tahap ini, industri lebih menghadapi persoalan volatilitas harga ketimbang kekurangan pasokan. Pasokan memang masih tersedia, tetapi para kontraktor kesulitan menyusun anggaran dan memproyeksikan biaya karena harga dapat berubah dalam waktu yang sangat singkat.” — Sukumar Subrayalu, Direktur Pelaksana Sugu Construction, sebagaimana dilaporkan oleh CNA.

Tekanan serupa kini merambat ke berbagai sektor usaha di Asia Tenggara. Laporan CNA menyebutkan bahwa industri yang bergantung pada turunan minyak bumi dan gas terpaksa memutar otak akibat fluktuasi harga yang liar. Beberapa sektor yang paling terdampak antara lain:

  • Manufaktur & Kemasan: Harga kemasan plastik pelindung pangan dan botol susu melonjak.

  • Agrikultur & Pangan: Pasokan pupuk terganggu, mengancam biaya produksi pangan lokal.

  • Sektor Unik: Bahkan pasokan gas helium untuk kebutuhan balon pesta dan industri medis pun ikut terhantam.

Kondisi ini memaksa para pelaku usaha menghadapi tiga pilihan pahit: menaikkan harga jual ke konsumen, menelan kerugian, atau merombak total model operasional mereka.

Berdasarkan analisis para pakar yang dihimpun oleh CNA, situasi ini diprediksi tidak akan membaik dalam waktu dekat. Gangguan rantai pasok ini diproyeksikan akan terus berlanjut setidaknya hingga enam bulan ke depan, bahkan jika ketegangan di Timur Tengah mereda esok hari.

Krisis ini berpotensi bertransformasi menjadi “guncangan struktural” jangka panjang yang akan terus membebani biaya produksi regional dan memaksa masyarakat Asia Tenggara hidup dalam era inflasi baru. (*)