👁️ Dilihat: 245 kali

Kerinci, Suara Independent.com – Potret ketimpangan pembangunan kembali terlihat di Kabupaten Kerinci.

Ruas jalan kabupaten sepanjang sekitar 6 kilometer di Kecamatan Bukit Kerman yang menjadi akses vital ribuan warga dilaporkan hampir satu dekade tidak mendapatkan perbaikan berarti dari pemerintah daerah.

Akibat minimnya perhatian tersebut, masyarakat akhirnya mengambil langkah yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Secara swadaya, warga dari sejumlah desa mengumpulkan dana, membeli semen, dan bergotong royong menutup lubang-lubang yang memenuhi badan jalan demi menjaga keselamatan pengguna jalan.

Ironisnya, jalan yang dibiarkan rusak bertahun-tahun itu bukanlah jalan biasa. Selain menjadi jalur utama penghubung antar desa, ruas tersebut merupakan akses penting menuju RSUD Bukit Kerman, Kantor Camat Bukit Kerman, serta jalur distribusi hasil pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Kerusakan jalan yang terus berlangsung tanpa penanganan memadai memunculkan kekecewaan mendalam di tengah masyarakat. Warga menilai pemerintah daerah belum menunjukkan keberpihakan yang serius terhadap kebutuhan infrastruktur di wilayah hilir Kerinci.

“Kerinci bukan hanya wilayah mudik. Kami yang berada di wilayah hilir juga berhak mendapatkan pembangunan yang layak dan perhatian yang sama dari pemerintah,” ujar sejumlah warga saat mengikuti kegiatan gotong royong.

Kondisi jalan yang berlubang, bergelombang, dan sulit dilalui saat musim hujan tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi mengancam keselamatan pengguna jalan, terutama masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan darurat.

Sekretaris Desa Pasar Kerman, Yoga, mengatakan aksi perbaikan secara swadaya dilakukan karena masyarakat sudah terlalu lama menunggu realisasi pembangunan yang tak kunjung datang.
“Jalan ini merupakan akses utama menuju rumah sakit, kantor camat, dan pusat aktivitas masyarakat.

Namun sampai hari ini belum ada perbaikan yang signifikan. Karena itu masyarakat berinisiatif mengumpulkan dana sendiri untuk melakukan perbaikan sementara,” katanya.

Menurut Yoga, persoalan jalan tersebut bukanlah masalah baru. Hampir setiap tahun usulan perbaikan selalu disampaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), bahkan beberapa kali disebut masuk dalam daftar prioritas pembangunan daerah.

Namun kenyataannya, hingga kini masyarakat masih harus berhadapan dengan kondisi jalan yang sama.
“Setiap Musrenbang jalan ini selalu menjadi prioritas usulan masyarakat. Bahkan pernah masuk dalam rencana penganggaran.

Tetapi pada akhirnya tidak terealisasi dengan alasan efisiensi anggaran. Yang menjadi pertanyaan, sampai kapan masyarakat harus menunggu?” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa buruknya kondisi jalan tersebut berdampak langsung terhadap sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, dan perekonomian masyarakat. Petani mengalami kesulitan mengangkut hasil panen, sementara warga yang hendak berobat harus berjibaku melewati jalan yang rusak.

Fakta bahwa masyarakat harus mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk memperbaiki jalan kabupaten dinilai menjadi gambaran nyata lemahnya perhatian pemerintah terhadap kebutuhan dasar masyarakat di wilayah tersebut.

Di tengah berbagai program pembangunan yang terus digaungkan, warga berharap pemerintah tidak hanya hadir dalam perencanaan dan janji-janji pembangunan, tetapi juga menghadirkan bukti nyata melalui perbaikan infrastruktur yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Saat ini, sekitar 6 kilometer ruas jalan masih dalam kondisi rusak dan membutuhkan penanganan permanen. Masyarakat Bukit Kerman berharap aksi gotong royong yang mereka lakukan menjadi alarm bagi Pemerintah Kabupaten Kerinci agar segera turun tangan sebelum kerusakan semakin parah dan menimbulkan korban.

“Kalau masyarakat sudah harus patungan untuk memperbaiki jalan kabupaten, maka ini bukan lagi sekadar persoalan jalan rusak. Ini adalah tanda bahwa ada kebutuhan masyarakat yang belum mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya,” tutup Yoga.

Edi T