👁️ Dilihat: 117 kali

JAKARTA SUARA INDEPENDENT.COM – Indonesia dan sejumlah negara di Asia Tenggara diperkirakan akan menghadapi peningkatan suhu udara dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini dipicu oleh proyeksi suhu yang berada di atas rata-rata normal, terutama memasuki periode Maret hingga Mei 2026.

Berdasarkan prakiraan musiman dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), sebagian besar wilayah maritim dan daratan Asia Tenggara diprediksi mengalami suhu yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal pada periode tersebut.

Laporan yang juga disorot oleh South China Morning Post menyebutkan bahwa peluang suhu berada di atas rata-rata di Indonesia dan Malaysia mencapai sekitar 80 hingga 100 persen dalam tiga bulan ke depan. Kondisi panas yang tidak biasa ini diperkirakan akan lebih dulu terasa di kedua negara tersebut sebelum meluas ke wilayah daratan Asia Tenggara lainnya.

Selain Indonesia dan Malaysia, sejumlah wilayah seperti Thailand dan bagian utara Vietnam juga diperkirakan mengalami suhu yang cukup tinggi. Sementara itu, beberapa daerah seperti Vietnam bagian tenggara, Kamboja, serta sebagian wilayah Filipina diprediksi masih berada pada kisaran suhu mendekati normal.

Dalam pernyataan resminya, ASMC menjelaskan bahwa mayoritas model iklim yang digunakan menunjukkan kecenderungan suhu di atas normal sebagai kondisi yang paling mungkin terjadi di kawasan Kepulauan Maritim Asia Tenggara pada periode Maret–April–Mei 2026.

Musim Kemarau Berpotensi Datang Lebih Cepat

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh berakhirnya fenomena La Niña yang sebelumnya terjadi dalam kategori lemah pada Februari 2026 serta peralihan kondisi iklim global menuju fase netral.

Pemantauan terhadap fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan bahwa indeks saat ini berada di angka -0,28, yang termasuk dalam kategori netral. Kondisi ini diperkirakan akan bertahan hingga Juni 2026.

Namun demikian, peluang munculnya fenomena El Niño dengan kategori lemah hingga moderat diprediksi meningkat pada paruh kedua tahun ini dengan probabilitas sekitar 50–60 persen.

Perubahan pola angin dari Monsun Asia (angin baratan) menuju Monsun Australia (angin timuran) juga menjadi salah satu indikator dimulainya musim kemarau.

Data BMKG menunjukkan bahwa sekitar 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta beberapa wilayah di Kalimantan dan Sulawesi.

Permintaan Energi Berpotensi Meningkat

Peningkatan suhu udara juga diperkirakan akan berdampak pada melonjaknya kebutuhan energi, khususnya listrik dan gas, karena penggunaan pendingin udara yang meningkat.

Situasi ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang memicu gangguan terhadap pasokan energi global.

Kondisi tersebut turut memengaruhi pasar gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) di kawasan Asia. Sejumlah negara Asia Tenggara mulai mengandalkan pasar spot untuk memperoleh pasokan gas setelah Qatar menghentikan sementara salah satu fasilitas ekspor LNG utamanya.

Beberapa negara seperti Vietnam dan Thailand dilaporkan tengah mengupayakan pengiriman LNG untuk periode Maret hingga April. Thailand bahkan menambah tiga kargo LNG dari pasar spot guna menjaga pasokan energi domestik.

Sementara itu, Singapura, yang lebih dari 40 persen kebutuhan LNG-nya tahun lalu dipasok dari Qatar, diperkirakan berpotensi menghadapi kenaikan tarif listrik pada kuartal kedua tahun ini.

Di pasar energi Asia, harga spot gas juga dilaporkan meningkat dalam sepekan terakhir dan diperkirakan tetap berada pada level tinggi. Kondisi ini membuat negara-negara Asia Tenggara harus bersaing dengan pembeli dari Asia Timur dan Eropa untuk mendapatkan pasokan energi yang terbatas.