👁️ Dilihat: 86 kali

SUNGAI PENUH, MEDIA SINDENT – Jika Anda berdiri di pusat Kota Sungai Penuh dan mengarahkan pandangan ke arah barat, mata Anda akan tertuju pada sebuah perbukitan yang tegak berdiri mengawasi denyut nadi kota. Itulah Bukit Senteong. Bagi generasi masa kini, ia mungkin hanya dikenal sebagai kawasan perkantoran atau tempat menikmati sunset, namun jauh di dalam tanahnya, Bukit Senteong menyimpan memori sejarah yang panjang tentang akulturasi dan awal mula peradaban modern di Bumi Kincai.

Etimologi: Sebuah Nama, Sebuah Cerita

Nama “Senteong” tidak lahir dari bahasa Kerinci kuno, melainkan dari dialek lokal yang menyerap istilah Tionghoa, “Sian Tiong”. Secara harfiah, istilah ini merujuk pada “Pekuburan Cina”.

Sejarah mencatat, pada masa awal pendudukan Belanda di Kerinci sekitar tahun 1903, gelombang pendatang keturunan Tionghoa mulai menetap sebagai pedagang. Atas izin otoritas saat itu, kawasan perbukitan ini dialokasikan sebagai pemakaman bagi warga Tionghoa. Nama “Sian Tiong” yang sulit diucapkan lidah lokal pun perlahan bergeser menjadi “Senteong”, sebuah nama yang kini abadi dalam peta identitas Kota Sungai Penuh.

Saksi Bisu Tiga Zaman

Bukit Senteong bukan sekadar bukit biasa. Ia adalah saksi bisu transisi kekuasaan:

  • Masa Belanda: Kawasan ini menjadi titik pantau strategis bagi pemerintah kolonial untuk mengawasi aktivitas di pasar dan pemukiman penduduk.

  • Masa Jepang: Konon, gua-gua perlindungan dan titik pertahanan pernah dibangun di sekitar lereng perbukitan ini.

  • Masa Kemerdekaan hingga Kini: Perannya berubah total. Senteong bertransformasi menjadi pusat kekuatan administratif dengan berdirinya instansi pemerintah

Pesona Wisata di Atas Awan

Kini, citra Bukit Senteong sebagai kawasan pemakaman tua hampir sepenuhnya memudar, berganti menjadi destinasi wisata favorit bagi warga lokal maupun pelancong. Dari ketinggiannya, pengunjung disuguhi panorama spektakuler: hamparan atap rumah penduduk yang tersusun rapi, kemegahan Masjid Agung Pondok Tinggi, hingga hijaunya sawah yang membentang luas menuju Danau Kerinci di kejauhan.

Saat senja tiba, Bukit Senteong menawarkan suasana magis. Cahaya lampu kota yang mulai menyala satu per satu menciptakan pemandangan city light yang menawan, menjadikannya lokasi favorit bagi para fotografer dan anak muda untuk sekadar melepas penat.

Merawat Memori di Tengah Modernisasi

Meskipun pembangunan terus berjalan, keberadaan Bukit Senteong mengingatkan warga Kota Sungai Penuh tentang nilai toleransi. Sejarahnya membuktikan bahwa sejak satu abad lalu, kota ini adalah wadah yang terbuka bagi berbagai etnis untuk hidup berdampingan.

Pemerintah Kota Sungai Penuh diharapkan dapat terus mempercantik kawasan ini tanpa menghilangkan nilai sejarahnya. Penataan taman kota dan fasilitas pendukung lainnya di Bukit Senteong berpotensi menjadikannya sebagai objek wisata sejarah dan religi yang unggul di Provinsi Jambi.

Menjaga Bukit Senteong bukan hanya menjaga sebuah bukit, melainkan merawat memori kolektif tentang bagaimana Kota Sungai Penuh tumbuh, bertahan, dan menjadi pusat peradaban yang kita banggakan hari ini.

Edi Tanjung