👁️ Dilihat: 61 kali

Media Sindent  Jakarta Di balik kesan kulit eksotis yang ditawarkan, tanning ternyata menyimpan ancaman berbahaya. Proses penyamakan kulit ini bisa memicu kerusakan sel, menurunkan daya tahan tubuh, hingga berujung pada risiko kanker kulit yang mematikan.

Melansir dari laman Hello Sehat, sinar UVA yang digunakan dalam tanning mampu menembus hingga ke lapisan molekul kulit. Dampaknya bukan hanya menimbulkan kerusakan jaringan, tetapi juga mengganggu kerja sel imun yang berperan melindungi tubuh dari penyakit.

Risiko kesehatan tidak muncul seketika, melainkan setelah tanning dilakukan secara rutin dalam jangka panjang. Kondisi serius yang kerap timbul antara lain kanker kulit non-melanoma serta melanoma. Dari keduanya, melanoma menjadi jenis kanker kulit yang paling berbahaya meski jumlah kasusnya lebih sedikit.

Melanoma biasanya bermula seperti tahi lalat atau bintik (freckles) dengan bentuk tidak beraturan dan warna yang tidak merata. Kadang disertai rasa gatal, dan bila tidak segera ditangani dapat berkembang cepat serta menyebar ke organ lain.

Menurut data yang dikutip dari Skin Cancer Foundation, penyamakan dalam ruangan bahkan meningkatkan risiko melanoma hingga 75 persen bila dilakukan sejak usia muda, khususnya sebelum 35 tahun. Hal ini membuktikan bahwa tanning bukan sekadar tren gaya hidup, tetapi ancaman serius bagi kesehatan.

Paparan sinar ultraviolet baik dari matahari maupun mesin tanning memicu produksi melanin sehingga kulit tampak lebih gelap. Namun, efek jangka panjangnya justru berbahaya. Di Amerika, disebutkan bahwa satu dari lima orang berisiko mengalami kanker kulit pada usia 70 tahun, dan kasus akibat tanning dalam ruangan bahkan melebihi angka kanker paru akibat rokok.

Selain ancaman kanker, tanning juga mempercepat munculnya tanda penuaan dini seperti kerutan, flek hitam, dan kulit kendur. Alih-alih membuat penampilan lebih sehat, justru efeknya merusak dan menurunkan kualitas kulit.