👁️ Dilihat: 41 kali

Kerinci Media Sinden – Di sebuah sudut Desa Batang Merangin, Kabupaten Kerinci, seorang bocah bernama Sinta Nuraini menjalani hari-harinya dengan penuh keterbatasan. Usianya baru 12 tahun, namun tubuh mungilnya hanya bisa terkulai lemah di kursi roda tua yang sudah usang.

Sejak lahir, Sinta mengidap hipotonia kongenital, kelainan bawaan yang membuat otot-otot tubuhnya lemah dan tidak mampu berfungsi normal. Akibat kondisi ini, Sinta tidak bisa bergerak bebas layaknya anak-anak seusianya yang berlari riang di halaman sekolah atau bermain bersama teman-temannya.

Setiap hari, Sinta hanya bisa duduk diam dengan tatapan sayu, menahan keinginan sederhana untuk beraktivitas seperti anak-anak lain.

Yang lebih memilukan, sejak bertahun-tahun lalu orang tua Sinta telah berulang kali mengajukan permohonan bantuan kursi roda kepada pemerintah desa baik saat masih tinggal di Desa Lubuk Paku maupun setelah pindah ke Batang Merangin. Namun, hingga kini harapan itu belum juga mendapat jawaban.

“Sudah berkali-kali kami ajukan permohonan, tapi tak pernah ada tanggapan. Padahal anak kami sangat membutuhkan kursi roda yang layak,” tutur orang tua Sinta dengan mata berkaca-kaca.

Keluarga sederhana ini memang tidak memiliki kemampuan finansial untuk membeli kursi roda baru. Mereka hanya bisa berharap pada kepedulian pemerintah dan para dermawan agar Sinta dapat memiliki alat bantu yang lebih layak.

Kini, di usianya yang beranjak remaja, tubuh ringkih Sinta masih menanti uluran tangan. Harapan terbesar keluarga ini sederhana: ada perhatian dari pemerintah, khususnya Dinas Sosial Kabupaten Kerinci, untuk memberikan kursi roda yang layak bagi anak mereka.

Sinta hanyalah satu dari sekian banyak anak bangsa yang membutuhkan perhatian lebih. Di balik senyum polosnya, tersimpan doa yang tak pernah putus menunggu jawaban: agar ia bisa hidup lebih layak, dengan bantuan kursi roda yang dapat membawanya menatap dunia lebih luas.