👁️ Dilihat: 37 kali

Kerinci MSNC –  Menjelang Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah, suasana di Dusun Pengasilama yang biasanya hidup oleh gema asma takbir kini justru terasa hening. Tidak terdengar lantunan takbir dari Masjid Sabulus Salam, yang selama ini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Keheningan itu memicu kekecewaan dan keresahan sejumlah warga, yang mempertanyakan peran Dewan Pengurus Masjid dalam menghidupkan semangat religius menyambut hari besar umat Islam.

“Setiap tahun biasanya satu minggu sebelum Idul Adha, suara takbir sudah menggema dari masjid. Sekarang ini benar-benar sunyi. Kami sangat kecewa,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Bagi warga, takbir bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan bagian penting dari syiar Islam yang membangkitkan rasa kebersamaan, kekhusyukan, dan pengingat akan nilai-nilai pengorbanan. Ketiadaan suasana itu membuat banyak pihak merasa kehilangan, bahkan mempertanyakan sejauh mana kepedulian pengurus masjid terhadap atmosfer keagamaan masyarakat.

“Kami butuh pemimpin yang bisa menggerakkan semangat, bukan hanya menjaga bangunan masjid. Takbiran adalah momen penting yang seharusnya tidak boleh diabaikan,” tegas seorang tokoh pemuda setempat.

Melihat situasi ini, warga juga mulai mendorong pemerintah desa agar tidak hanya menjadi pengelola administratif, tetapi juga aktif sebagai motor pengingat dan penggerak utama dalam menjaga tradisi dan kekuatan spiritual masyarakat.

“Jika pengurus masjid lamban, maka pemerintah desa harus mengambil inisiatif. Ini menyangkut kehidupan beragama dan semangat masyarakat. Pemerintah desa punya peran besar untuk menjadi pengikat dan penyemangat semua unsur masyarakat,” ucap salah satu warga lainnya.

Warga berharap adanya pembenahan menyeluruh, termasuk evaluasi terhadap kinerja Dewan Pengurus Masjid Sabulus Salam. Mereka menginginkan sinergi antara pengurus masjid, tokoh agama, adat pemuda, dan pemerintah desa agar suasana keagamaan tidak padam, melainkan terus menyala sebagai sumber kekuatan sosial dan spiritual desa.

“Takbir itu suara umat yang memuliakan Allah. Kalau itu tidak lagi terdengar, maka kita kehilangan ruh dari hari raya itu sendiri,” tambahnya.

Situasi ini menjadi momentum refleksi bagi semua pihak. Bahwa menjaga kehidupan keagamaan bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat. Dan semoga, ke depan, gema takbir akan kembali menggema bukan hanya dari pengeras suara masjid, tapi juga dari hati yang dipenuhi iman dan kebersamaan

Penulis : Edi Tanjung

Editor : Edi Tanjung