šŸ‘ļø Dilihat: 61 kali

Dharmasraya Sumetera Barat – Media Sindent.News.com — Seorang mahasiswa Universitas Dharmas Indonesia (Undhari), Peri Aryandi, meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di depan kampus pada Senin (5/5 ), sekitar pukul 03.00 WIB. Keterlambatan penanganan medis di RSUD Sungai Dareh diduga menjadi faktor yang memperburuk kondisi korban hingga akhirnya meninggal dunia.

Peri Aryandi (asal Tabir Ulu, Merangin) mengendarai sepeda motor Honda Beat bersama temannya, Al Huda (asal Jangkat, Merangin), saat mereka bertabrakan dengan mobil minibus pengangkut ikan dari arah Padang di Jalan Lintas Sumatera Km 18, Jorong Sungai Lomak, Nagari Koto Padang, Kecamatan Koto Baru.

Keduanya sempat dilarikan ke Puskesmas Blok B Sitiung I sekitar pukul 03.30 WIB dan mendapat penanganan awal. Kemudian dirujuk ke RSUD Sungai Dareh dan tiba sekitar pukul 05.00 WIB. Namun, menurut laporan yang diterima pihak kampus, penanganan lanjutan terhadap kedua korban sangat lambat.

Korban Peri Aryandi mengalami luka berat termasuk pendarahan hebat, patah tulang paha kanan, dan luka robek di kepala. Meski semua berkas rujukan telah dinyatakan lengkap sejak pukul 08.45 WIB, hingga pukul 12.00 WIB korban belum juga dirujuk ke rumah sakit di Padang karena menunggu konfirmasi lewat pesan singkat.

“Korban sangat membutuhkan tindakan cepat. Sayangnya, keputusan rujukan digantung hanya karena belum ada balasan WhatsApp dari rumah sakit tujuan. Ini sangat kami sesalkan,” ujar Dr. Amar Salahuddin, M.Pd, Wakil Rektor III Undhari, mewakili pihak keluarga dan civitas akademika kampus.

Tak hanya itu, pihak kampus juga menyoroti sikap pegawai administrasi RSUD Sungai Dareh yang dianggap tidak menunjukkan empati dalam kondisi darurat tersebut. Salah satu staf disebut melontarkan pernyataan bernada sarkastik kepada keluarga korban: “Baa kok dak apak sajo langsung maantaan ka Padang.” Pernyataan ini memicu kekecewaan mendalam dari keluarga dan pihak kampus.

Korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 12.15 WIB, sebelum tindakan rujukan atau operasi sempat dilakukan. Sementara itu, korban kedua, Al Huda, yang juga sempat menunggu lama sebelum tindakan operasi, berhasil diselamatkan setelah menjalani operasi pada pukul 14.20 WIB.

Menanggapi kejadian ini, pihak Undhari mengajukan permohonan resmi kepada pemerintah daerah dan manajemen RSUD Sungai Dareh agar segera dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penanganan pasien gawat darurat.

“Kami menuntut investigasi tuntas, sanksi terhadap petugas yang lalai, serta perbaikan sistem komunikasi dan rujukan antar rumah sakit agar tidak lagi bergantung pada metode informal yang merugikan pasien,” tegas Dr. Amar Salahuddin.

Pihak Undhari berharap tragedi seperti ini menjadi pelajaran berharga agar pelayanan kesehatan darurat di Dharmasraya dapat lebih sigap dan berorientasi pada keselamatan pasien.

( Red )