👁️ Dilihat: 157 kali

Jakarta, SuaraIndependent.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kian memanas memunculkan pertanyaan besar di kalangan pengamat internasional: apakah perang ini benar-benar mampu mengguncang, bahkan menjatuhkan pemerintahan di Teheran?

Di tengah meningkatnya operasi militer, laporan internal komunitas intelijen Amerika Serikat justru menunjukkan gambaran yang berbeda dari ambisi politik Washington.

Sejumlah analisis intelijen terbaru menyebutkan bahwa tujuan besar pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengganti rezim di Iran diperkirakan sulit tercapai, bahkan jika serangan militer terus berlanjut dalam jangka waktu lama.

Laporan yang diungkap oleh The Washington Post menyebutkan adanya tinjauan rahasia dari National Intelligence Council. Dalam kajian tersebut disimpulkan bahwa perang terhadap Iran kecil kemungkinan mampu menggulingkan struktur kekuasaan yang saat ini mengendalikan negara tersebut.

Dokumen intelijen yang rampung pada pertengahan Februari itu memaparkan dua skenario kemungkinan langkah militer Amerika Serikat. Namun dalam kedua skenario tersebut, hasil akhirnya diperkirakan tetap sama: sistem politik Iran diyakini masih mampu bertahan melalui mekanisme suksesi kepemimpinan.

Artinya, sekalipun terjadi perubahan di pucuk pimpinan, struktur kekuasaan negara diprediksi tetap berjalan sesuai prosedur yang telah diatur dalam sistem pemerintahan Iran.

Selain itu, para pejabat intelijen juga menilai peluang kelompok oposisi Iran untuk mengambil alih kekuasaan sangat kecil. Kondisi politik domestik di negara tersebut dinilai masih cukup kuat menopang stabilitas pemerintahan yang ada.

Di sisi lain, kekhawatiran mulai muncul di dalam negeri Amerika Serikat. Sejumlah anggota Partai Demokrat di Kongres memperingatkan bahwa kampanye udara terhadap Iran berpotensi menguras stok persenjataan tertentu milik militer AS.

Isu tersebut mengemuka dalam sebuah pengarahan tertutup antara pejabat pemerintahan Trump dan anggota Kongres yang digelar awal pekan ini.

Meski jalur diplomasi disebut masih terbuka, Amerika Serikat bersama Israel tetap melanjutkan operasi militer terhadap Iran pada pekan lalu. Dalam serangan tersebut, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan tewas bersama sejumlah tokoh penting lainnya.

Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel, instalasi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, serta beberapa negara regional yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Sejak konflik memanas, pemerintahan Trump berulang kali menyatakan bahwa Iran berupaya membuka jalur pembicaraan gencatan senjata. Namun sejumlah laporan lain justru menyebutkan klaim tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan situasi yang terjadi di lapangan.

Selama bertahun-tahun, kelompok garis keras anti-Iran di Amerika Serikat memang mendorong langkah militer untuk mengganti rezim di Teheran. Mereka beralasan bahwa program nuklir Iran sudah mendekati kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir.

Padahal sejak April tahun lalu, Iran dan Amerika Serikat sebenarnya tengah menjalani proses negosiasi terkait program nuklir tersebut. Pemerintah Iran berkali-kali menegaskan bahwa pengembangan nuklir yang mereka lakukan murni untuk kepentingan sipil dan energi.

Ketegangan kembali meningkat tajam setelah fasilitas nuklir Iran dibombardir oleh Amerika Serikat dan Israel pada Juni tahun lalu. Meskipun perundingan tetap berjalan, kedua negara kembali melancarkan serangan besar terhadap Iran pada pekan lalu.

Dalam sepekan terakhir, berbagai target di Iran menjadi sasaran serangan udara, mulai dari gedung pemerintahan hingga instalasi militer. Namun laporan di lapangan juga menyebut sejumlah bangunan sipil ikut terdampak, termasuk rumah sakit dan sekolah.

Pada hari pertama operasi pengeboman, sebanyak 168 siswi dilaporkan tewas setelah sekolah mereka terkena serangan langsung. Kantor berita Associated Press kemudian melaporkan bahwa serangan mematikan tersebut diduga berasal dari militer Amerika Serikat.

Sementara itu, Presiden Donald Trump sempat menyinggung operasi militer tersebut saat menghadiri Shield of the Americas Summit di Florida pada Sabtu lalu.

“Kami melakukan dengan sangat baik di Iran, Anda bisa melihat hasilnya,” kata Trump, seperti dilaporkan The Guardian.

Ia mengklaim militer Amerika berhasil menghancurkan puluhan kapal perang Iran dalam waktu singkat.

“Kami telah menghancurkan 42 kapal angkatan laut mereka, beberapa di antaranya sangat besar, hanya dalam tiga hari. Itu pada dasarnya mengakhiri kekuatan laut mereka. Kami juga menghancurkan angkatan udara mereka serta memutus komunikasi dan telekomunikasi mereka,” ujarnya.

Trump juga melontarkan kritik keras terhadap pemerintah Iran.

“Mereka adalah orang-orang yang buruk, benar-benar orang yang buruk,” katanya.

Menurut Trump, jika tidak dihentikan, Iran berpotensi memiliki senjata nuklir dalam waktu dekat.

“Delapan bulan lagi mereka mungkin sudah memiliki senjata nuklir. Mereka gila dan akan menggunakannya. Jadi apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang baik bagi dunia,” ujar Trump.