Sungaipenuh MEDIA SINDENT – Suara kekecewaan menggema di tengah masyarakat Desa Sumur Gedang. Warga menilai, selama masa kepemimpinan Kepala Desa (Kades) Eri, geliat pembangunan di desa tersebut seolah berhenti di tempat. Padahal, setiap tahun Dana Desa (DD) yang dikucurkan pemerintah pusat mencapai jumlah yang cukup besar.
Ironisnya, dana yang semestinya digunakan untuk memperbaiki infrastruktur dan memperlancar drainase, justru dinilai tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sejumlah warga menyebut, sejak Eri menjabat pada tahun 2020 hingga kini, tak ada perubahan berarti dalam pembangunan fisik di desanya.
“Selama Kades Eri menjabat, tidak ada pembangunan yang kami rasakan. Jalan lingkungan di RT 5 dan RT 6 masih peninggalan kades sebelumnya. Sekarang kondisinya sudah rusak dan keropos, tapi tidak pernah diperbaiki,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, dengan nada kecewa.
Kondisi parit dan saluran air pun tak kalah memprihatinkan. Warga menyebut drainase di beberapa titik sudah pecah dan tertimbun tanah, sehingga setiap kali hujan deras turun, air meluap ke badan jalan bahkan masuk ke rumah warga. “Hujan sedikit saja, air langsung meluber. Rumah kami sering kebanjiran,” keluh warga lainnya.
Yang lebih membuat masyarakat heran, Kades Eri disebut hampir setiap hari melewati jalan rusak tersebut, namun tetap seolah menutup mata terhadap kondisi desanya sendiri.
“Setiap hari beliau lewat sini, tapi tidak ada tindakan. Harusnya sebagai pemimpin, beliau peka dan turun langsung mencari solusi. Kami merasa tidak diperhatikan,” ungkap seorang warga dengan nada kesal.
Kekecewaan warga semakin memuncak karena kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada perubahan berarti. Mereka pun mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan Dana Desa yang jumlahnya dinilai besar, namun hasilnya tak terlihat.
“Dana Desa itu kan untuk rakyat, tapi kami tidak tahu ke mana arahnya. Coba lihat desa tetangga, jalannya bagus, drainase rapi, bahkan sudah dipasang batu conblock. Di Sumur Gedang, jangankan batu conblock, jalan tanah pun masih berlubang,” tegas warga lainnya.
Kini, masyarakat mulai kehilangan kesabaran. Mereka menegaskan, apabila dalam waktu dekat tidak ada upaya nyata dari pemerintah desa untuk memperbaiki jalan, drainase, dan fasilitas umum lainnya, warga akan melaporkan kinerja Kades Eri kepada pihak berwenang.
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, kami akan melapor ke Inspektorat dan aparat penegak hukum. Kami ingin tahu ke mana sebenarnya Dana Desa selama lima tahun ini digunakan,” ujar seorang tokoh masyarakat.
Warga berharap laporan itu nantinya dapat membuka jalan bagi pemeriksaan transparansi dan akuntabilitas penggunaan Dana Desa. Mereka menegaskan, langkah ini bukan sekadar bentuk kekecewaan, tetapi dorongan agar pembangunan desa kembali berjalan sebagaimana mestinya.
“Kami hanya ingin desa kami maju seperti desa lain. Kami butuh pemimpin yang mau mendengar dan bertindak, bukan hanya lewat tapi tak peduli,” tutur warga dengan nada getir.
Hingga berita ini diturunkan, Kades Eri belum memberikan tanggapan resmi terkait berbagai keluhan dan tudingan masyarakat soal realisasi Dana Desa serta minimnya pembangunan di wilayah Sumur Gedan





Tinggalkan Balasan