👁️ Dilihat: 51 kali

Quezon City, Filipina — Direktorat Tindak Pidana Pelindungan Perempuan dan Anak (PPA) dan Direktorat Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Bareskrim Polri menghadiri pertemuan strategis di kantor Women and Children Protection Center (WCPC), Camp BGen Rafael T. Crame, Quezon City, Filipina, Selasa (15/7/2025).

Dilansir Tribrata News, kunjungan ini merupakan bagian dari penguatan kerja sama antara aparat penegak hukum Indonesia dan Filipina dalam menangani kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak di dunia maya. Pertemuan ini difasilitasi oleh Philippine Internet Crimes Against Children Center (PICACC) sebagai pusat koordinasi lintas-lembaga dan lintas-negara di kawasan.

Acara ini dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi WCPC, delegasi Direktorat PPA dan PPO Bareskrim Polri, Komisioner KPAI, perwakilan dari Australian Federal Police (AFP), serta unsur dari Divhubinter, Dittipid Siber, dan lembaga-lembaga mitra lainnya.

PICACC sendiri dibentuk pada 27 Februari 2019 sebagai kolaborasi antara Kepolisian Nasional Filipina (PNP), Biro Investigasi Nasional (NBI), Kepolisian Federal Australia (AFP), Badan Kejahatan Nasional Inggris (NCA), dan International Justice Mission. Pada 2021, Kepolisian Nasional Belanda resmi bergabung sebagai mitra.

Dalam pemaparannya, PLTCOL Ayn E. Natuel, selaku Assistant Chief ATIPD/TL PICACC, menyampaikan bahwa sejak berdiri hingga Juni 2025, PICACC telah menerima 580 rujukan kasus, melaksanakan 310 operasi, menangkap 178 pelaku, dan menyelamatkan 823 korban eksploitasi seksual anak secara daring.

Sementara itu, Direktur PPA dan PPO Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Dr. Nurul Azizah, S.I.K., M.Si., menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan pihak Filipina. Ia menegaskan bahwa tantangan kejahatan seksual daring terhadap anak harus ditangani dengan pendekatan kolaboratif lintas negara.

“Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi antarnegara, membangun jejaring strategis, dan saling belajar dari sistem perlindungan anak yang telah dikembangkan secara komprehensif oleh PICACC,” ujar Brigjen Nurul.

Dalam forum tersebut, Brigjen Nurul juga memperkenalkan program unggulan Direktorat PPA dan PPO Polri bertajuk “Rise and Speak: Berani Bicara, Selamatkan Sesama”, yang mendorong korban, saksi, dan masyarakat luas untuk berani melaporkan berbagai bentuk kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap anak.

Ia menambahkan, Indonesia dan Filipina memiliki karakter sosial dan budaya yang serupa. Tantangan seperti kemiskinan, minimnya edukasi digital, dan lemahnya pengawasan keluarga turut menjadi faktor yang memicu maraknya eksploitasi anak secara daring di kedua negara. Oleh karena itu, kerja sama ini dinilai sangat strategis dan mendesak.

Senada dengan itu, PBGEN Maria Sheila T. Portento, Acting Chief WCPC, menekankan bahwa isu perlindungan anak adalah isu kemanusiaan global yang memerlukan respons bersama lintas negara.

“Kehadiran delegasi Indonesia hari ini mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat kerja sama regional, berbagi praktik terbaik, dan membangun sistem perlindungan yang lebih terintegrasi dan responsif,” ungkapnya.

Pertemuan ditutup dengan semangat kolaborasi untuk mempererat hubungan antara Polri dan PICACC, melalui pelatihan bersama, pertukaran informasi intelijen, serta penguatan sistem perlindungan korban secara menyeluruh dan berkelanjutan. (*)