👁️ Dilihat: 55 kali

Sungaipenuh.Jambi MNSC – Isak keprihatinan mulai terdengar dari Desa Sungai Ning, Kecamatan Sungai Bungkal, Kota Sungaipenuh. Di tengah rintik hujan yang tak lagi membawa kesegaran, warga hanya bisa memandang aliran sungai mereka berubah menjadi jalur sampah dan limbah—warisan dari Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di Renah Padang Tinggi (RPT), yang kini dinilai tak layak lagi digunakan.

Setiap kali hujan mengguyur, bukan lagi harapan panen atau kesuburan tanah yang menyapa warga. Justru kekhawatiran dan ketakutan akan longsoran sampah yang mengalir deras menuruni bukit, menyusuri jalan nasional Sungaipenuh–Tapan, bahkan menjerat kendaraan dalam arus kotoran yang mematikan. Satu insiden tragis baru-baru ini memperlihatkan sebuah mobil terseret arus hingga masuk ke sungai. Nyawa bisa saja hilang—bukan karena bencana alam, tapi karena kelalaian pengelolaan sampah.

Sungai yang mengalir tenang ke desa mereka, dahulu menjadi sumber kehidupan: untuk mencuci, mandi, bahkan minum. Kini, airnya berubah warna dan baunya menusuk, menyimpan ancaman penyakit yang tak kasat mata.

“Kami tak bisa tidur nyenyak tiap kali hujan turun. Kami takut, bukan hanya karena banjir, tapi karena sampah yang bisa sewaktu-waktu menyerbu rumah kami lewat sungai,” ujar Deki Hamdani, tokoh pemuda Desa Sungai Ning, dengan suara berat menahan emosi.
“Air sungai itu adalah nyawa kami. Kami mohon, demi masa depan anak-anak kami, tutuplah TPAS di RPT.”

Desakan warga bukan semata keluhan. Itu jeritan harapan yang lahir dari ketakutan, kelelahan, dan kecintaan pada lingkungan tempat mereka bertahan hidup. Masyarakat Sungai Ning berharap Pemerintah Kota Sungaipenuh tidak menutup mata. Sebelum bencana yang lebih besar datang dan semuanya terlambat, mereka meminta: dengarlah suara rakyatmu.

( Rakina )