Wali Kota Pangkalpinang Hadiri Rapat Paripurna Ke-19 Masa Persidangan III Tahun 2022

Wali Kota Pangkalpinang Hadiri Rapat Paripurna Ke-19 Masa Persidangan III Tahun 2022

Spread the love

Dalam rangka tanggapan Wali Kota Pangkalpinang atas pandangan umum fraksi-fraksi terhadap tiga Raperda Kota Pangkalpinang, Wali Kota Molen hadiri Rapat Paripurna Ke-19 Masa Persidangan III Tahun 2022 di Kantor DPRD Kota Pangkalpinang, Selasa (17/05/2022).

 

 

Terkait Raperda tersebut, wali kota menyebut hasil ajuan tiga Raperda dapat disetujui dan teknisnya akan dibahas lagi ke Pansus.

“Nanti akan dibahas ada beberapa hal, selanjutnya di Perwako, pembahasan Perwako itu terkait tentang budaya Ritus yang lebih terfokus. Terkait investasi, mudah-mudahan investor lebih banyak datang kesini, kita ramah terhadap investasi”, ujar Molen dalam sambutannya.

Kemudian, tambah Molen, akan lebih ditekankan aturan mengenai investasi agar lebih jelas sehingga terciptanya investasi di Kota Pangkalpinang benar-benar tegas, aman, nyaman dan damai.

“Sehingga mereka dapat berinvestasi di Kota Pangkalpinang”, jelasnya.

Molen melanjutkan, suatu objek pemajuan kebudayaan Ritus dalam Raperda tersebut harus masuk dalam Raperda pelestarian budaya daerah Kota Pangkalpinang. Diketahui, Ritus merupakan tata cara pelaksanaan upacara atau kegiatan yang didasarkan pada nilai-nilai tertentu dan dilakukan oleh kelompok masyarakat secara terus-menerus.

Ritus juga dapat diwariskan pada generasi berikutnya, antara lain berbagai perayaan, peringatan kelahiran, upacara perkawinan, upacara kematian dan ritual kepercayaan beserta perlengkapannya.

“Untuk Kota Pangkalpinang sendiri Ritus yang masih ada dimasyarakat adalah sembahyang kubur, sembahyang rebut, bukek puaso 6, rebo kasan, ngerabun pusaka, belnger, ngancak, naber, bekias, beapi-api, mempunang/bekemat”, terangnya.

Sementara itu, terkait muang jong dan murok jeramik turut melestarikan warisan budaya, upaya pelestarian yang sudah dilakukan melalui pengembangan dan pemanfaatan tari kreasi tradisional kolosal.

“Ditinjau dari kerangka bahasa dunia, dalam antropologi linguistik juga dipelajari masalah dialek atau logat bahasa yang digunakan dalam satu rumpun atau suatu daerah, yaitu dialek Riau Lingga, dialek orang Darat, dialek Melayu Bangka, dialek orang China, dan dialek orang Mapur”, sebutnya.

Baca Juga :  Sinergi Pemkot dan FKUB Ciptakan Pangkalpinang Zero Conflict

Selanjutnya Raperda tersebut akhirnya dapat disetujui menjadi Peraturan Daerah atau Perda. ( Choi )