Masyarakat Kampung Pasir melakukan Aksi damai setelah ditutupnya lokasi penambangan

Masyarakat Kampung Pasir melakukan Aksi damai setelah ditutupnya lokasi penambangan

Spread the love

Kabupaten Bangka. Suaraindependent. Com
Paska di tutupnya tambang oleh Polres Bangka di Kampung Pasir dan Jalan Laut Ratusan Warga Masyarakat Penambangan Rakyat Tambang Inkonvensional (TI) melakukan aksi damai sekaligus musyawarah terkait adanya penutupan lokasi tambang tersebut, Jum’at (18/3).

Sebelumnya diketahui, ratusan para penambang menggantungkan hidupnya sekaligus untuk menyambung hidup dilokasi tersebut, infomasi yang beredar penutup tambang itu bermula dari statment Ketua DPC HNSI Bangka di beberapa media online dan disusul dengan adanya surat dari Ketua LBH HKTI yang meminta agar tambang di lokasi Kampung Pasir dan Jalan Laut ditutup dengan alasan karena lokasi tambang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS).

Baca Juga :  Sekda Akui Capaian Realisasi Investasi di Pangkalpinang Cukup Baik

Dalam aksi damai salah seorang tokoh masyarakat di jalan laut, Ahmad Jawahir, dalam hal ini mewakili masyarakat di tiga lingkungan melakukan aksi damai di lokasi tambang. Ia meminta kepada Kapolres Bangka agar tambang rakyat dibuka kembali.

“Kami semua berharap, tambang bisa kembali berjalan. Saat ini kondisi dilapangan aktivitas sudah distop mulai dari kemarin sampai hari ini. Secara otomatis dengan terhentinya aktivitas kegiatan penambangan rakyat disini, kami selaku masyarakat menyesalkan hal ini”, tegas Ahmad Jawahir
Masyarakat penambang pada pertemuan siang hari ini, sesungguhnya mencari solusi agar TI rakyat bisa beroperasi kembali, maksudnya seperti itu. Kalaupun dalam satu dua hari ini tidak akan mungkin bisa heboh lagi gitu loh,” ungkap Ahmad Jawahir.

Baca Juga :  Minyak goreng curah langka, 7 Desa di Kecamatan Muara Kaman dapat Pendistribusian

Dirinya mengatakan, bahwa warga masyarakat akan mengutus kepala lingkungan (Kaling) yang ada di 3 lingkungan untuk menghadap Kapolres Bangka, berharap untuk nantinya tambang tersebut, bisa kembali bekerja.

“Oleh karena itu, kami segera mengutus warga dan penambang tak lupa pak kaling yang ada di 3 lingkungan tersebut. Kaling akan segera menghadap pak kapolres, agar dapat mengijinkan untuk bisa mengembalikan posisi tambang rakyat itu. Bisa dimulai kembali, paling lambat harusnya hari senin nantinya, kalau kita terlalu lama berhenti, seperti ini dua hari saja sudah tidak karu-karuan. Apa lagi sampai berminggu-minggu. Maka pertemuan hari ini kita gelar aksi damai. Semoga bapak-bapak sebagai penentu kebijakan bisa mengerti akan hal ini,” harapnya.

Ahmad Jawahir juga menyeslakn terkait statemen dan surat Ketua DPC HNSI Kabupaten Bangka dan Ketua LBH HKTI Provinsi Bangka Belitung beliau (red-ahmad jauhari) menjelaskan lokasi untuk tambang tersebut, bukanlah lokasi DAS ataupun Sungai.

“Kepada orang yang menghentikan aktivitas ini, sesungguhnya jangan terlalu zholim seperti itu. Kami ini menambang di daerah sendiri, dan bukan DAS bukan Sungai, tapi itu kolong yang pernah di tinggalkan oleh PT Timah TBK zaman dulu,” tegasnya.

“Jangan terlalu mengganggu orang lain, kami khan tidak ada masalah. Para penambang pada intinya semua damai akur-akur saja, dengan warga lainnya. Siapapun di sini tidak ada gejolak, tetapi dengan adanya orang yang menghentikan aktivitas seperti ini jadi gejolaknya luar biasa. Oleh karena itu kami berpesan kepada bapak yang hebat yang menyetop aktivitas tambang ini, kami mohon segera di cabut laporannya, agar kami bisa menambang kembali, intinya seperti itu,” ungkapnya.

Sementara itu, Johan Murod Ketua DPD HNSI Bangka Belitung, saat menghadiri aksi damai dengan tegas menyatakan dirinya sangat mendukung tambang rakyat di jalan laut agar segera di buka kembali.

“Saya Sebagai Panglima Adat yang juga ketua HNSI Babel, ketika saya mendengar ada masyarakat kita susah, saya harus bertanggung jawab, dan saya harus membela rakyat,” tegasnya di tengah-tengah aksi damai masyarakat tambang.

Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa dirinya merupakan salah satu dari tokoh presidium dalam perjuangan pembentukan Provinsi Bangka Belitung. Sebagai tokoh dirinya pada masa perjuangan sadar betul bahwa rakyat Bangka Belitung harus sejahtera. Bahkan orang yang berasal dari luar daerah untuk menambang tidak diganggu.

“Nah, ini orang mau menambang di kampung sendiri kita stop. Kita berharap hal tersebut, bisa kita musyawarahkan secara baik-baik, dengan Bapak-bapak polisi agar bisa kembali di buka. Sehingga UMKM hidup, toko-toko hidup, masyarakat hidup. Kalau sore ini bisa nambang kita nambang, dengan bapak kapolres dengan segala kebijaksanaannya, agar mengizinkan masyarakat untuk menambang kembali, demi kesejahteraan masyarakat,” kata Johan Murod.

Aksi damai tersebut, dilanjutkan dengan penandatanganan petisi mendukung aktivitas tambang oleh masyarakat yang ada di tiga lokasi tersebut. Penandatanganan di mulai oleh Johan Murod sebagai Ketua HNSI Babel, di ikuti oleh ratusan warga masyarakat yang mendukung agar tambang rakyat bisa di buka kembali.
Reporter : Aldo

Editor : Ramon